Umi Dinda, Simbol Emansipasi, Kebangkitan dan Kemandirian Perempuan NTB

Kabupaten Bima, jurnalexpose.com || Pilkada lima tahun lalu atau tepatnya 2015 menjadi tahun yang paling bersejarah bagi masyarakat Kabupaten Bima terutama bagi kaum perempuan. Pasalnya tahun itu Hj. Indah Dhamayanti Putri SE yang mewakili kaum hawa terpilih sebagai Bupati Bima periode 2016-2021.

Terpilihnya perempuan yang akrab disapa Umi Dinda ini awal jebolnya tembok kepeminpinan eksekutif yang selama ini didominasi kaum laki-laki. Pilkada saat itu, Umi Dinda bahkan disebut-sebut sebagai Bupati perempuan pertama di NTB bahkan di Indonesia Timur.

Umi Dinda menjadi simbol emansipasi perempuan di NTB, yakni proses memperjuangkan hak-hak sosial dan politik perempuan yang berhubungan dengan negara dan bangsa. Upaya perempuan mendapatkan kesamaan di depan hukum dan kesetaraan gender.

Selain itu, terpilihnya Umi Dinda sebagai Bupati Bima juga awal keberanian para perempuan NTB masuk ke ranah politik eksekutif. Karena pasca itu, kaum perempuan di NTB berbondong-bondong mencalonkan diri sebagai Kepala Daerah, salahsatunya Dr. Sitti Rohmi Djalilah, yang kini menjabat sebagai Wakil Gubernur NTB.

Jejak itu juga diikuti perempuan NTB lainnya. Pilkada yang digelar serentak di sejumlah Kabupaten/Kota di NTB dipastikan banyak perwakilan kaum perempuan yang maju. Seperti Pilkada Kabupaten Dompu, Sumbawa dan Kota Mataram. 

Kini perempuan di NTB tidak lagi menjadi kaum pengembira sebagai basis untuk mendulang suara di Pilkada. Tapi mereka juga menjadi peserta Pilkada yang nantinya berfungsi untuk mengambil kebijakan memajukan daerah terutama memperjuangkan hak-hak sesama kaumnya.

Seperti yang dilakukan Umi Dinda selama lima tahun menjadi Bupati, kiprahnya membangun Kabupaten Bima tidak diragukan lagi. Amanah dan kepercayaan yang diberikan oleh masyarakat 191 Desa yang tersebar di 18 Kecamatan itu dimanfaatkan dengan baik oleh dirinya bersama Wakil Bupati, Drs. Dahlan.

Bersama Dahlan, Umi Dinda berhasil menurunkan angka kemiskinan dan jumlah penganguran di kabupaten Bima secara signifikan. Pertumbuhan ekomoni hingga Indesk Pembangunan (IPM) pun dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. (Data BPS Provinsi NTB tahun 2019).

Menyadari dirinya perempuan, program-programnya juga berbasis pemberdayaan perempuan, seperti Kios Untuk Produk Kelompok Usaha Perempuan (KUPU-KUPU). Program pelatihan bagi kelompok usaha perempuan, bantuan alat, modal hingga dukungan promosi produk ini sukses mencetak sekitar 3000 usaha perempuan. 

Ada juga program Si MAWAR yakni inovasi yang menggabungkan pelayanan, perlindungan dan pemberdayaan perempuan. Selain menekan angka kekerasan terhadap perempuan program berbasis aplikasi ini, juga mendapat apresiasi dan pengahargaan dari Wapres tahun 2019.

Kemudian La RIMPU. Program hasil kolaborasi antara Pemerintah Dinda-Dahlan dengan Alamtara Institute
Ini merupakan Sekolah Rintisan bagi Perempuan, yang menitikberatkan upaya pencegahan, advokasi dan sosialisasi serta pemberdayaan ekonomi perempuan dalam meningkatkan partisipasi perempuan sebagai subyek pembangunan. 

Lawan Intimidasi dan Kekerasan Non Verbal

Kekerasan non verbal dan intimidasi rentan terjadi terhadap perempuan. Termasuk dialami Umi Dinda. Sebelum terpilih sebagai Bupati hingga kini, Ia kerap mendapat perlakuan yang kurang menyenangkan melalui sosial media. Berbagai tuduhan dan isu yang merusak mental dan kepribadiannya terus berdatangan.

Saat pilkada 2015 dan berlanjut tahun 2020, Umi Dinda kerap diserang berbagai isu, tuduhan informasi bohong (hoax) hingga black campaign. Tidak hanya personal tapi juga kehidupan pribadi keluarganya. 

Bukannya menyerang balik dengan melaporkan ke ranah hukum, Umi Dinda malah justru menyikapinya dengan bijak, ramah dan seolah tidak mempedulikan. Ia tetap fokus bekerja melayani masyarakat dan konsen membangun daerah kearah yang lebih baik lagi. 

Selain itu, Umi Dinda juga merupakan sosok kemandirian kaum perempuan yang selama ini hanya menjadi ibu rumah tangga, fokus mengurus anak dan melayani suami. Meski disibukan dengan agenda pemerintahan yang berkontribusi besar memajukan daerah. Umi Dinda juga tidak melupakan tanggungjawabnya sebagai seorang ibu bagi dua orang anak lelakinya. Yang membanggakan lagi Ia merangkap sebagai seorang ayah.

Bagi Umi Dinda, saat ini kaum perempuan telah hidup setara dan sejajar dengan kaum laki-laki, ditengah tantangan banyak yang dihadapi. Tapi Ia terus mendorong kaum perempuan agar berjuang bagi keluarga sesama kaum sendiri, lebih-lebih untuk daerah dan bangsa. 

Perempuan didorong untuk membuka diri dan berkarya melalui pikiran dan gagasan. Perempuan harus turut serta memberikan penerangan dari gelapnya ketidakadilan yang dialami selama ini sehingga tercipta suatu keadilan yang menyeluruh.

"Perempuan tidak hanya berfunsi melahirkan dan mengurus rumah tangga. Tapi sosok perempuan harus menjadi juru kunci ketahanan keluarga. Menciptakan generasi tangguh dan handal," kata Umi Dinda.