Menteri Agama Resmikan STAI Aisyah binti Abu Bakar, Kampus Internasional Khusus Muslimah Pertama di Indonesia
Bogor – Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., meresmikan Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Aisyah binti Abu Bakar di Jalan Jami, RT 003/RW 004, Desa Sukajaya, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (18/7/2026).
Peresmian tersebut menandai hadirnya perguruan tinggi Islam bertaraf internasional yang dikhususkan bagi muslimah di Indonesia. Kampus ini mengusung sistem pendidikan berbasis ma'had (asrama) selama 24 jam dengan memadukan pendidikan akademik, pembinaan karakter, dan penguatan nilai-nilai keislaman.
Acara peresmian ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Menteri Agama bersama Ketua Yayasan Aisyah binti Abu Bakar Li al-Dakwah, Dr. Edi Suwanto, Lc., S.H., M.Pd. Kegiatan tersebut turut dihadiri jajaran Forkopimda Kabupaten Bogor, Forkopimcam Tamansari, para ulama, duta besar dari sejumlah negara Arab, atase agama dan pendidikan, serta mitra nasional maupun internasional dari berbagai lembaga dunia Islam.
Dalam orasi ilmiahnya, Menteri Agama menegaskan bahwa pendidikan Islam harus mampu melahirkan generasi yang tidak hanya unggul dalam penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki akhlak mulia dan spiritualitas yang kuat.
"Ilmu adalah cahaya. Cahaya itu tidak akan masuk ke dalam hati yang dipenuhi maksiat dan kotoran batin. Seorang pencari ilmu harus membersihkan hati, memperkuat akhlak, dan menjaga kesucian dirinya agar ilmu menjadi berkah dan bermanfaat bagi umat," ujar Nasaruddin Umar.
Ia juga memberikan apresiasi kepada Yayasan Aisyah binti Abu Bakar Li al-Dakwah yang dinilai telah menghadirkan lembaga pendidikan tinggi khusus muslimah sebagai bentuk kontribusi dalam memajukan pendidikan Islam dan meningkatkan kualitas sumber daya perempuan Indonesia.
Ketua Yayasan Aisyah binti Abu Bakar Li al-Dakwah, Dr. Edi Suwanto, menyampaikan rasa syukur atas berdirinya STAI Aisyah yang disebut sebagai hasil dari proses panjang yang dilandasi doa, kerja keras, dan dukungan berbagai pihak.
"Hari ini bukan hanya menjadi sejarah bagi Yayasan Aisyah binti Abu Bakar, tetapi kami berharap menjadi bagian dari sejarah kemajuan pendidikan Islam di Indonesia. Semua ini merupakan pertolongan Allah SWT yang patut kami syukuri," ungkapnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada sejumlah mitra internasional, di antaranya Jam'iyyah Ihya' at-Turats al-Islami Kuwait, Lajnah Janub Syarq Asia, dan Lajnah Khairiyyah Musytarakah Jakarta, yang telah berkontribusi dalam pembangunan kampus.
Kampus Muslimah Bertaraf Internasional
STAI Aisyah binti Abu Bakar menerapkan sistem pendidikan terpadu berbasis ma'had selama 24 jam yang mengintegrasikan ilmu syariah, penguasaan bahasa asing, riset, dan pembentukan karakter.
Beberapa keunggulan kampus tersebut meliputi penggunaan tiga bahasa pengantar, yakni Bahasa Arab, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris, program wajib Tahfiz Al-Qur'an 30 juz sebagai syarat kelulusan, didukung 16 dosen asing dari berbagai negara, serta sekitar 30 persen mahasiswi berasal dari luar negeri, termasuk Jepang, Thailand, Kamboja, Filipina, dan China.
Selain itu, kurikulum juga memadukan ilmu syariah, sejarah peradaban Islam, kepemimpinan, teknologi, hingga riset kontemporer guna mempersiapkan lulusan yang mampu bersaing di tingkat global.
Saat ini, STAI Aisyah membuka dua program studi sarjana, yaitu Hukum Keluarga Islam (HKI) dan Pendidikan Agama Islam (PAI). Kampus juga menyelenggarakan berbagai program nonformal, seperti Program Intensif Bahasa Arab, Program Sanad Al-Qur'an selama dua tahun, serta kelas Tahsin Al-Qur'an secara daring.
Didukung fasilitas asrama dan layanan kesehatan selama 24 jam, STAI Aisyah diharapkan menjadi pusat pengembangan pendidikan Islam bagi muslimah dari berbagai negara.
Ke depan, yayasan menargetkan STAI Aisyah binti Abu Bakar berkembang menjadi kampus muslimah bertaraf global melalui peningkatan mutu akademik, pembukaan program studi baru, serta perluasan kerja sama dengan perguruan tinggi di dalam maupun luar negeri.
"Kami berharap peresmian ini menjadi awal terjalinnya sinergi yang semakin kuat antara pemerintah, ulama, lembaga pendidikan, para dermawan, dan mitra internasional dalam memajukan pendidikan Islam di Indonesia," tutup Dr. Edi Suwanto. (Ade)
