Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Kabupaten Bima, jurnalexpose.com || Pameran Museum 2020, dengan tema "Bima Dalam Lintasan Sejarah" di dirangkaikan dengan Lomba Miniatur Bangunan Bersejarah, digelar di Museum Asi Mbojo, Kota Bima, selama Lima Hari (14-18 Oktober 2020).

Pameran Literasi Sejarah pertama di Nusa Tenggara Barat (NTB) ini, dibuka  Pjs Bupati Bima Ir. Muhammad Husni, M.Si, Rabu 14 Oktober 2020, di UPT Museum Asi Mbojo.

Ikut menghadiri acara pameran tersebut Kepala Dinas Dikbudpora Kabupaten Bima beserta jajaran, Majelis Adat Dana Mbojo, Kerabat Kesultanan Bima, Perwakilan Mahasiswa,  Komunitas Budaya, Toga dan Toma.



Mengawali sambutannya, Pjs Bupati, menyampaikan selamat Hari Museum Nasional yang jatuh pada tanggal 13 Oktober 2020. 

Sejak tahun 2015, gerakan Cinta Museum dan Ayo ke Museum, mulai digelorakan. Untuk mendekatkan masyarakat dengan museum.

"Mari kita jadikan perayaan Hari Museum sebagai ajang untuk mencintai museum. Menjadikan museum sebagai tempat rekreasi sekaligus tempat belajar bagi kita semua, terutama generasi muda,"ungkap Muhammad Husni.

Pjs yang juga Kadis Pertambangan dan Energi Provinsi NTB ini berharap,  jajaran UPT Museum Asi Mbojo dapat merancang program dan kegiatan yang inovatif dan inspiratif untuk menarik minat masyarakat.

Pameran Museum 2020 ini, kata Pjs, bagian dari upaya kreatif, inovatif dan inspiratif jajaran Museum Asi Mbojo untuk meningkatkan minat kunjungan. Karena itu, kegiatan seperti ini perlu dilanjutkan dan ditingkatkan di tahun-tahun mendatang. 

"Museum Asi Mbojo adalah kebanggaan kita bersama, sebagai cagar budaya nasional. Sekaligus destinasi wisata sejarah, budaya dan edukasi bagi masyarakat Dana Mbojo tercinta,"lanjut Muhammad Husni.

Dulu, Asi Mbojo sebagai pusat Pemerintahan, Peradilan dan pengembangan seni budaya, banyak merekam dan menyimpan jejak-jejak sejarah dan budaya masa silam.

Untuk itu, keberadaan Museum Asi Mbojo hari ini dan kedepan, harus terus dirancang sebagai pusat kajian sejarah budaya, penanaman nilai kearifan lokal sekaligus sebagai ruang publik dan rekreasi. 

Pameran Museum tahun 2020, melalui tema dan konten  yang diangkat, pengunjung dan masyarakat dapat menyelami liku perjalanan panjang sejarah Bima.

Mulai dari zaman pra sejarah, zaman kerajaan, kesultanan hingga Bima bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

"Ini tema yang menarik dan pameran museum Asi Mbojo tahun 2020 ini merupakan pameran literasi sejarah pertama di Nusa Tenggara Barat,"aku Pjs Bupati Bima.


Sementara itu, Sekretaris Dinas Dikbudpora Kabupaten Bima, A Salam Gani, S. Pd, M.Pd, mengatakan, Museum ASI Mbojo adalah Unit Pelayanan Teknis, Dinas Dikbudpora Kabupaten Bima.

Museum ASI Mbojo mengemban tugas pelayanan teknis Permuseuman, Ketatausahaan, Perawatan dan Pemeliharaan terhadap benda-benda bersejarah,  peninggalan kerajaan dan Kesultanan Bima.

Pameran yang dilaksanakan, merupakan bagian dari kegiatan publik UPTD Museum ASI Mbojo 2020. Bersumber dari dana DAK Non Fisik Museum tahun 2020.

Dijelaskan A. Salam, rangkaian kegiatan publik tersebut antara lain Pameran Museum dengan tema 'Bima Dalam Lintasan Sejarah', Lomba Miniatur Bangunan Bersejarah dan Seminar Museum dengan tema menggali nilai kearifan lokal dalam masyarakat Bima.

"Hasil rumusan seminar, akan menjadi rekomendasi untuk penerbitan Peraturan Bupati Bima, tentang implementasi nilai kearifan lokal dalam masyarakat Bima di tahun 2021 mendatang," ujar Sekdis.

Lomba miniatur bangunan bersejarah diikuti siswa- siswi SMP dan MTS se Kabupaten Bima.

Seminar museum akan dilaksanakan pada Kamis 15 Oktober 2020. Kemudian pameran ditutup pada Minggu 18 Oktober 2020.

Menurut Sekdis Salam, tujuan pameran museum ASI Mbojo 2020, untuk menarik minat kunjungan dan kecintaan masyarakat terhadap museum.

Memperkenalkan koleksi-koleksi museum ASI Mbojo. Juga sebagai ajang sosialisasi dan promosi museum ASI Mbojo kepada masyarakat.

Kota Bima Jurnal Expose || Menyambut Hari Jadi Kota Bima Ke-18 yang dihelat di bulan April mendatang, Dinas Pariwisata Kota Bima tengah menyiapkan 2000 orang Penari Lenggo yang diakomodir dari seluruh siswi SDN dan SMP se Kota Bima

Foto : Plt. Kepala Dinas Pariwisata, Yuliana, S.Sos

Pra kondisinya saat ini sedang giatnya latihan bersama di Lapangan Serasuba tiga kali dalam seminggu dengan tidak mengganggu jadwal dari Proses Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) para siswi

"Saat ini kami tengah menggalang partisipasi dari sekolah SDN dan SMP untuk menyertakana siswinya mengikuti latihan Penari Lenggo yang akan dipentaskan pada HUT Kota Bima ke 18 nantinya" ungkap Yuliana, S. Sos (Plt. Kadis Pariwisata Kota Bima)

"Selain Tari Lenggo yang akan dipentaskan nantinya kami juga akan menggelar kegiatan budaya lainnya seperti drama kolosal tentang permainan anak anak tempo dulu dan putri kerajaan yang menyelinap diantara penonton lainnya, permainan Hadrah Sere, Gantao, Buja Kadanda dan jenis budaya lainnya pun akan dipentaskan" urainya penuh semangat


Pasca diberikan kepercayaan pada dirinya selaku Plt Dinas Pariwisata Kota Bima, Yuliana, S. Sos tengah gencar menata secara internal OPD Pariwisata yang dinakhodainya dengan mengajak serta seluruh komponen untuk membantu serta memotivasi dirinya @ry@

Jakarta, jurnalexpose.com || Walikota Bima H Muhammad Lutfi SE menghadiri Acara Malam Kasama Weki Bima Dompu dengan agenda Malam Puncak Pemilihan Duta Budaya Rimpu dan Sambolo Tahun 2019 bertempat di Anjungan Provinsi NTB Taman Mini Indonesia Indah Jakarta, (Jumat 27/12/2019).


Kegiatan ini dihadiri pula oleh Sekretaris Daerah Kota Bima Drs H Mukhtar MH dan Hadir pula perwakilan kedutaan Maroko Mr Omar, Anggota DPR RI H Syafruddin ST MT, Prof Burhan Magenda, Drs HM Saleh Umar MSi, Ketua Umum BMMB Syarif Hifayatullah SH MBA CLA dan Ketua Himpunan Dompu Bapak Sofyan.

Dalam sambutannya Ketua Yayasan Rimpu Indonesia H Dudi Fahrudin selaku panitia penyelenggara menyampaikan ucapan terima kasih dan apresiasi kepada Walikota Bima yang telah hadir. Ini merupakan bentuk perhatian Walikota Bima terhadap kelestarian seni dan budaya.


Dalam sambutannya Walikota Bima menyampaikan Khazanah budaya beragam yang kita miliki menjadi tanggung jawab kita bersama untuk melestarikan dan menjaganya. Budaya menjadi identitas dan ciri khas daerah kita salah satunya adalah busana "Rimpu". Tugas kita adalah meperkenalkannya kepada dunia dan mengembalikan nilai-nilai budaya "Maja Labo Dahu" dalam kehidupan bermasyarakat kita.

Diakhir kegiatan Walikota Bima memberikan cinderamata berupa "Tembe Nggoli" salah satu sarung tenun khas Bima kepada Perwakilan Negara Maroko, Anggota DPR RI, Ketua BMMB Jakarta dan Ketua Rimpu Nusantara

Kabupaten Bima, jurnalexpose.com || Saat kunjungan kerja ke Kota dan Kabupaten Bima, Minggu (08/12/2019), Wakil Gubernur NTB, Dr. Hj. Sitii Rohmi Djalilah, Bupati Bima, Hj. indah Damayanti Putri, SE dan Walikota Bima, H. M. Lutfi menyempatkan diri mengunjungi situs bersejarah Wadu Pa'a, di Desa Kananta, Kecamatan Soromandi, Kabupaten Bima.


Oleh para sejarahwan dan peneliti bahwa Wadu Pa`a dikaitkan dengan awal berdirinya Kerajaan Bima pada abad 14 masehi , namun lebih jauh lagi mengenai Wadu Pa`a setelah diteliti oleh para Arkeolog bahwa situs tersebut dibuat (dipahat) pada abad 8 Masehi, umurnya jauh lebih tua dari Kerajaan Bima seperti yang tertera pada pahatan tulisan salah satu tebing di bagian utara. Jika dilihat dari abad pembuatannya berarti Bima sudah mempunyai aktifitas maritim dan peradaban pada saat itu.


Pada Wadu pa`a (Batu Pahat) terdapat beberapa bentuk pahatan untuk pemujaan Hindu bercampur dengan Budha, yang dibuktikan dari pahatan relief Ganesha, Budha, Chattra, Lingga dan Siwa Mahaguru. Relief tersebut dibuat pada sebuah tebing di pinggir pantai Desa Kananta, Soromandi, mempunyai dua bagian antara utara dan selatan yang berjarak kurang lebih 80 meter.

Bagi sobat Humas yang pengen tahu situs bersejarah ini, bisa langsung ke sana, sambil menikmati keindahan pemandangan alam dan pantai di Teluk Bima.

Sumber: Humaspro, Mbojoklopedia

Kota Bima, jurnalexpose.com || Rapat Evaluasi Pelaksanaan Pacuan Kuda Tradisional Walikota Cup dan Pangdam IX Udayana Cup tahun 2019 diselenggarakan di Aula Kantor Walikota Bima dan dibuka secara langsung oleh Wakil Walikota Bima Feri Sofiyan SH, Kamis (24/10).


Rapat yang dipimpin oleh Dandim 1608/Bima selaku moderator tersebut juga turut dihadiri oleh Kapolres Bima Kota/Kabupaten atau pejabat yang mewakili, Sekretaris Daerah Kota Bima, Pimpinan Perangkat Daerah Kota Bima terkait, Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Bima, Sekretaris Pordasi NTB, Para Budayawan Bima, Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Bima, Organisasi Pemuda dan Masyarakat, Perguruan Tinggi serta tamu undangan lainnya.

Wakil Walikota Bima melalui sambutannya menyampaikan bahwa rapat ini diharapkan mampu menjadi dasar dalam rangka mengevaluasi kegiatan yang telah dilaksanakan untuk menjadi pertimbangan dan pembenahan kedepannya seperti standar penggunaan helm, jaket maupun keamanan lainnya untuk para joki.

“Atas nama pemerintah saya sampaikan selamat datang kepada para hadirin, semoga dapat memberikan partisipasi berupa masukannya melalui rapat ini.” Tutup Wakil Walikota.

Dandim 1608/Bima Letkol Inf Bambang Kurnia Eka Putra dalam pengantarnya mengucapkan rasa terima kasih kepada masyarakat serta para tamu undangan atas masukan dan kritikan baik melalui media sosial ataupun melalui diskusi langsung.

“Melalui rapat atau diskusi ini kita mencari jalan keluar atas insiden musibah kemarin agar bisa kita lengkapi dengan standarisasi dan regulasi baik dari sisi kesehatan maupun keamanan para joki. Sekali lagi saya mengajak kepada para hadirin yang ada diruangan ini mari sama-sama kita memberi masukan untuk kemajuan Bima kedepannya”. Tutup Dandim dalam pengantarnya.

Kabupaten Bima, jurnalexpose.com || Sebagai bentuk dimulainya pelaksanaan kegiatan Festival Uma Lengge 2019 Bupati Bima, Hj. Dinda Dhamayanti Putri, SE  memainkan “ kareku kandei” bersama ibu–ibu setempat di Pekan Budaya Maria yang di gagas oleh Karang Taruna Kecamatan Wawo yang dilaksanakan di uma Lengge Kecamatan Wawo Kabupaten Bima. (8/9/19)

Foto : Bupati Bima saat memainkan "Kareku Kandai" bersama ibu-ibu
Turut hadir dalam kegiatan ini Asisten Administrasi Umum Setda Bima, Kabag, Kepala OPD, Sekwan, Camat Wawo beserta unsur muspika Kecamatan, Kapolsek Wawo, Panitia Pelaksana serta warga masyarakat Kecamatan Wawo.

Ketua panitia Pelaksana Mukhlis Azis dalam pengantarnya menyampaikan, kegiatan yang dilaksanakan ini merupakan salah satu bentuk implementasi pelestarian budaya yang berfokus untuk menyajikan, menghadirkan dan memprakarsai para pelaku semi dalam rangka pelestarian budaya. Sekaligus berkomitmen untuk memperkuat dan memajukan kebudayaan yang dimilikinya.

foto : Bupati Bima, Hj. Dinda Dhamayanti Putri, SE saat membuka Festival Uma Lengge
Keberadaan uma Lengge merupakan salah satu cagar budaya yang harus kita jaga dan lestarikan, sehingga kita selaku generasi dan masyarakat untuk dapat menjaga dan melestarikan keberadaan uma lengge tersebut.

Bupati Bima Hj. Indah Dhamayanti Putri, SE mengatakan Pekan Budaya Maria Dan Festival Uma Lengge Tahun 2019 ini, diharapkan dapat menjadi wahana untuk menumbuhkan semangat dan motivasi kita dalam upaya menggali, melestarikan dan mengembangkan nilai-nilai budaya, yang hidup, tumbuh dan berkembang didalam kehidupan masyarakat Melayu.


"Mengingat besarnya pengaruh dan peranan penyelenggaraan festival seni budaya terhadap kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di harapkan mampu menumbuhkan tekad dan semangat kita semua, untuk terus meningkatkan kualitas penyelenggaraan Festival di masa – masa mendatang", ujarnya.

Pembukaan_festival_sangiang_api_2019
Foto : Yeling Wang saat di pembukaan Festival Sangiang Api 2019
Kabupaten Bima - jurnalexpose.com || Masyarakat yang memadati seputaran pesisir saat berlangsungnya acara pembukaan Festifal Sangiang Api 2019, spontan seluruh perhatian tertuju dengan kemunculan beberapa sampan yang bertolak dari gunung Sangiang menuju lokasi acara pembukaan. (Minggu, 28/7/2019).

di saat salah satu sampan berada di pinggir pantai, munculah seorang wanita muda berpakaian seksi yang sangat cantik

Yeling Wang
Foto : Yeling Wang turun dari sampan menuju acara pembukaan Festival
Yeling Wang, itulah namanya, wanita asal jakarta ini merupakan salah satu artis ibu kota ikut menghadiri pembukaan Festifal Sangiang Api bersama rombongannya, kru stasiun televisi nasional Trans TV.

Beberapa masyarakat yang dikonfirmasi dipanggung menjelaskan keberadaan Trans TV dan Yeling Wang untuk meliput acara Pembukaan Festival yang sedang berlangsung dan sekaligus shoting pembuatan film.

Antisius pengunjung dan acara semakin meriah, terlihat mereka berdesakan dan berebutan melakukan foto bersama artis ibu kota tersebut hingga selesai acara.

Kabupaten Bima - jurnalexpose.com || Festival Sangiang Api 2019 yang merupakan gelaran Budaya dan Pariwisata tahunan masyarakat Wera dan Kabupaten Bima dipastikan akan digelar. Even yang Salah satu ajang spektakulernya adalah lomba sampan tradisional ini akan kembali dihelat mulai dari minggu (28/7/19) bertempat di Desa Sangiang Kecamatan Wera Kabupaten Bima.

Kegiatan ini rencananya akan dibuka langsung oleh gubernur NTB, Selain gubernur, pihak Pemerintah Pusat melalui kementerian Desa, Dirjen Pengembangan Desa juga akan ikut hadir menyaksikan ajang spektakuler ini.

Hal ini disampaikan ketua panitia Erwin S.Pd yang dikonfirmasi melalui selulernya (kamis, 25/7)

Erwin menjelaskan Kegiatan Festifal Sangiang Api (lomba sampan) ini merupakan even tahunan yang bertujuan untuk melestarikan tradisi budaya masyarakat Bima pada umumnya.

"Tahun ini yang ke 6 dan alhamdulillah tiap tahun diadakan oleh pemerintah Desa Sangiang, Kegiatan ini erat kaitanya dengan budaya dan kerajaan Bima sehingga perlu dilestarikan oleh kita sebagai masyarakat agar budaya ini bisa saja nantinya menjadi sebuah ajang pegelaran festifal berskala nasional", ungkapnya.


Festifal Sangiang Api ini dalam bentuk lomba sampan sebagaimana tahun sebelumnya yang dimulai mulai tanggal 28 juli sampai dengan tanggal 18 agustus ini sehingga saat ini perlu dipersiapkan segala sesuatu untuk menunjang kesuksesan

Pantauan kami, di lokasi pelaksanaan festifal saat ini terlihat kesibukan dari kalangan panitia yang menyiapkan segala sesuatu terutama persiapan panggung utama dan penataan tempat seputaran pesisir pantai untuk tempat kegiatan.

Sebagai informasi pergelaran Festival Sangiang Api tahun-tahun sebelumnya tergolong sukses dan melibatkan penonton ribuan orang yang hadir dari berbagai daerah diwilayah indonesia dan internasional. (JE05)

Festival_Teluk_bima_2019
Kabupaten Bima - Jurnal Expose || Pembukaan even tahunan Festival Pranata Adat Budaya Teluk Bima resmi gelar dengan Pemukulan lesung (kareku kandei) oleh Bupati Bima Hj. Indah Dhamayanti Putri, SE didampingi Wakil Bupati Drs. H. Dahlan M.Noer, Direktur Jenderal Pengembangan Daerah Tertentu Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal Dan Transmigrasi RI, Ir. Roro Aisyah Gamawati MM dan Direktur Penanganan Daerah Pasca Konflik Hasrul Edyar S.Sos, M.Ap, Pimpinan DPRD dan Unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (FKPD) di Taman Wisata Desa Panda. Minggu (7/7).

Sesaat sebelum pembukaan Festival, Bupati bersama rombongan Kementerian Desa meninjau stand parade bakar ikan yang berlokasi di sisi timur arena festival dan selanjutnya disambut Tarian Wura "Bongi Monca".

Festival_Teluk_bima_2019
"Festival ini merupakan kesempatan yang baik untuk mengangkat ke permukaan dan mempromosikan sektor pariwisata dan denyut nadi ekonomi masyarakat di sekitar kawasan wisata Teluk Bima", ujar Bupati

Dirjen Pengembangan Daerah Tertentu Kemendes, PDT dan Transmigrasi Ir. Roro Aisyah Gamawati MM dalam sambutannya menjelaskan,
Kemendes mempunyai mandat melaksanakan Nawacita Ke tiga Presiden Joko Widodo yaitu Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan. Oleh karena itu, penguatan pranata adat melalui festival budaya dan perdamaian jadi salah satu program prioritas yang terus diwujudkan". Terang Roro Aisyah.

Festival_Teluk_bima_2019
Pada akhir sambutannya, Roro menyampaikan ucapan terima kasih atas dukungan Pemerintah daerah dalam penjabaran kegiatan Kemendes di Kabupaten Bima. (JE02)

Sumber : Dinas Pariwisata, Bakesbang, Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bima didukung Tim Komunikasi Publik Diskominfostik

Kabupaten Bima = Jurnal Expose || Bupati Bima Hj. Indah Dhamayanti Putri, SE membuka secara resmi kegiatan festival Kampung Jompa yang diselenggarakan oleh karang taruna desa Roka Kecamatan Belo, di DAM Desa Roka Kecamatan belo, Jum’at (22/3).

festival_kampung_jompa_bima_2
Bupati menyampaikan bahwa festival ini dalam rangka melestarikan budaya Lokal Lewat Generasi Berbudaya, dari festival ini masyarakat akan mengetahui berbagai macam budaya yang dimiliki oleh daerah sehingga generasi muda kita akan mengetahui aneka ragaman budaya yang dimiliki oleh daerah ini.

Sebagai sebuah peristiwa budaya, festival memiliki warna-warni ragam dan intensitas dramatik dari berbagai aspek dinamika, seperti misalnya estetika yang dikandungnya, berbagai tanda dan makna yang melekat, “akar” sejarah serta keterlibatan para penutur aslinya.

Selain digelarnya festival jompa ini, Keberadaan Embung DAM ROKA merupakan salah satu destinasi wisata yang perlu dikembangkan sehingga melalui kegiatan ini sedikit tidaknya masyarakat akan menikmati keindahan embung DAM ROKA yang sangat kita banggakan.

Bupati berharap melalui festival yang digelar ini sebagai salah satu upaya pelestarian budaya yang kita miliki sehingga kita selaku warga masyarakat dapat mendukung pelaksanaan even ini demi memperkenalkan budaya yang kita miliki di masyarakat maupun generasi muda kita.

Menurut ketua panitia pelaksana Iksan mengatakan bahwa atas nama ketua panitia pelaksana kami sampaikan ucapan terima kasih kepada Bupati Bima yang telah mendukung pelaksanan festival ini.

Kegiatan yang kami laksanakan ini Berupa kegiatan kareku kandei, kareku nocu, dzikir hadra, tari tradisional, tari kreasi, bazar dan pameran, dimana kegiatan ini dilaksanakan mulai dari tangal 22 sampai dengan 24 Maret 2019 di embung DAM ROKA.

Momentum ini Bupati Bima mencoba alat tradisional berupa kareku kandei yang merupakan salah satu alat tradisional yang dimiliki oleh warga masyarakat yang disaksikan oleh para tamu undangan yang menghadiri kegiatan tersebut. Sekaligus menyerahkan bantuan pribadi uang tunai sebesar 3 Juta kepada panitia pelaksana dalam rangka mendukung festival jompa tersebut.

Pada kesempatan itu juga pihak panitia juga menyerahkan lukisan bergambar wajah Bupati Bima Hj. Indah Dhamayanti Putri, SE sebagai bentuk apresiasi kawula muda roka atas dedikasi dan dukungan dari pelaksanaan festival ini.(JE02)

Kabupaten Bima - Jurnal Expose || GERIMIS (Gerakan Muslimah Solid) Wera mengadakan Acara Festival Hijab Wera dengan Tema "The power of Hijab", tujuan dari kegiatan ini memperingati International Hijab Day (Hari hijab International ) dan sebagai bentuk Aksi  penolakan terhadap Valentine Day yang jatuh pada 14 Februari di setiap tahunnya.

festival_hijab_wera
Kegiatan yang dilaksanakan di Kecamatan Wera, Kabupaten Bima, Sabtu, 16 Februari 2019 lalu itu berlangsung selama dua hari. Rangkaian kegiatan awal yaitu Talk Show dengan tema "Hijabku Hijrahku" sembari aksi menebar 200 jilbab sekaligus Deklarasi GERIMIS Wera. Dan pada hari Minggu 17 Februari 2019 dilanjutkan dengan jalan santai memakai rimpu serta aksi menebar jilbab juga diisi oleh persembahan puisi dan drama dengan dimeriahkan seluruh masyarakat Wera dan juga banyak Pemerintah Desa serta Pemerintah Kecamatan Wera.

"Dalam kegiatan ini, semua elemen baik masyarakan dan pemerintah di Kecamatan Wera sangat mendukung dalam mengembalian kebudayaan Rimpu yang menjadi identitas budaya bima lampau untuk tetap dilestarikan dan dihidupkan kembali di tengah-tengah masyarakat era milenial sekarang ini," ucap Wulan la raya, ketua GERIMIS Wera, Minggu, 18 Februari 2019.

Ia mengatakan, dalam kegiatan tersebut, diikuti oleh ratusan gadis dan ibu-ibu di Kecamatan Wera. Dan kegiatan ini merupakan kegiatan yang diharapkan mampu mengembalikan budaya bima yang hilang di Wera untuk dilestarikan lagi.

festival_hijab_wera_1
"Kepada para semua pihak terutama pihak Pemerintah Kecamatan Wera, kami ucapkan terima kasih atas dukungannya hingga berjalan suksesnya acara sebagai bentuk awal Kecamatan Wera menghadirkan kembali adat dan kebudayaan Bima dalam aktivitas kehidupannya dewasa ini," tutup wulan. (JE-Jun)

Bima - Jurnal Expose || Tahun ini, Dinas Pariwisata Kabupaten Bima menggelar sejumlah event pariwisata, seni dan budaya yang menyebar pada sejumlah kecamatan.

Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata pada Dinas Pariwisata Kabupaten Bima Abdul Haris, S.Sos usai Rapat koordinasi Persiapan Event Pariwisata Senin (21/1) mengatakan bahwa akan diselenggarakan pada rentang waktu mulai bulan Maret sampai bulan Oktober 2019.

Pada bulan Maret mendatang akan diselenggarakan Bima Bike Tour yang dilanjutkan dengan event Teka Tambora Pada bulan April 2019.

Dikatakan Haris, pada bulan Mei mendatang akan dilaksanakan Festival Bombo Ncera yang selanjutnya diikuti 2 event pada bulan Juli yaitu Sail Teluk Bima dalam rangka Hari Jadi Ke-379 Bima dan Festival Sangiang di kecamatan Wera.

Demikian halnya pada bulan Agustus, juga akan digelar 2 event yaitu Festival Langgudu dan Bulan Pesona Lombok Sumbawa (BPLS).

Sedangkan pada bulan selanjutnya kata Haris, "bulan September akan digelar Festival Uma Lengge di desa Maria Kecamatan Wawo yang merupakan kerjasama dengan karang taruna Desa Maria dan komunitas Panggita.

Selain event pada bulan September, terdapat dua event yang dilaksanakan pada bulan Oktober yaitu Pesta Rakyat Teluk Sape bekerja sama dengan Kades Bugis, Kades Soro dan Komunitas Lariti, serta event Jelajah Alam Tambora Trail Adventure bekerjasama dengan Komunitas Pesona Bima".Ungkap Haris.(JE.002)

Rimpu_mbojo
Rimpu merupakan sebuah budaya dalam dimensi busana pada masyarakat Bima (Dou Mbojo). Budaya "rimpu" telah hidup dan berkembang sejak masyarakat Bima ada. Rimpu merupakan cara berbusana yang mengandung nilai-nilai khas yang sejalan dengan kondisi daerah yang bernuansa Islam (Kesultanan atau Kerajaan Islam).

Rimpu ini adalah pakaian yang diperuntukkan bagi kaum perempuan, sedangkan kaum lelakinya tidak memakai rimpu tetapi ”katente” (menggulungkan sarung di pinggang)

Diberdayakan oleh Blogger.