Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Kabupaten Bima, jurnalexpose.com || Saat kunjungan kerja ke Kota dan Kabupaten Bima, Minggu (08/12/2019), Wakil Gubernur NTB, Dr. Hj. Sitii Rohmi Djalilah, Bupati Bima, Hj. indah Damayanti Putri, SE dan Walikota Bima, H. M. Lutfi menyempatkan diri mengunjungi situs bersejarah Wadu Pa'a, di Desa Kananta, Kecamatan Soromandi, Kabupaten Bima.


Oleh para sejarahwan dan peneliti bahwa Wadu Pa`a dikaitkan dengan awal berdirinya Kerajaan Bima pada abad 14 masehi , namun lebih jauh lagi mengenai Wadu Pa`a setelah diteliti oleh para Arkeolog bahwa situs tersebut dibuat (dipahat) pada abad 8 Masehi, umurnya jauh lebih tua dari Kerajaan Bima seperti yang tertera pada pahatan tulisan salah satu tebing di bagian utara. Jika dilihat dari abad pembuatannya berarti Bima sudah mempunyai aktifitas maritim dan peradaban pada saat itu.


Pada Wadu pa`a (Batu Pahat) terdapat beberapa bentuk pahatan untuk pemujaan Hindu bercampur dengan Budha, yang dibuktikan dari pahatan relief Ganesha, Budha, Chattra, Lingga dan Siwa Mahaguru. Relief tersebut dibuat pada sebuah tebing di pinggir pantai Desa Kananta, Soromandi, mempunyai dua bagian antara utara dan selatan yang berjarak kurang lebih 80 meter.

Bagi sobat Humas yang pengen tahu situs bersejarah ini, bisa langsung ke sana, sambil menikmati keindahan pemandangan alam dan pantai di Teluk Bima.

Sumber: Humaspro, Mbojoklopedia

Kabupaten Bima - Jurnal Expose || "Watu Sadundu" adalah salah satu dari sekian banyak destinasi wisata yang menjadi bagian dari pesona alam yang ada di kecamatan Wera Kabupaten Bima, Tepatnya di pegunungan Desa Kalajena.

Wadu_sadundu_wera
Wadu sadundu, diunggah pertama kali oleh anggota SAT POL PP Kec. Wera
Meskipun keberadaannya belum dikenal luas masyarakat tapi adanya batu susun ini menjadi bukti dan saksi perkembangan sejarah kerajaan Bima di wilayah timur.

Menurut orang tua terdahulu yang di cerita turun temurun, batu ini ada keterkaitan erat dengan kisah perjalanan Raja Bima tempo dulu

Di tempat inilah raja bersama pengikutnya duduk bersama untuk sejenak melepas lelah dalam perjalanan jauh menuju Gunung Api Sangiang.

Bercerita banyak hal sembari sang raja melingkari tempat yg menjadi cikal bakal keberadaan "Watu Sadundu" untuk menandai sebuah sumpah janji kesetiaan abdi dalem kala itu

Dengan menunjukan kesaktiannya sang raja menyusun batu dengan kekuatan kedua tangannya menjadi titah sang raja untuk doktrin pentingnya makna kebersamaan.

Satu pesannya untuk seluruh pengikutnya adalah kebersamaan itu diibaratkan kedua tangan dalam mengangkat suatu benda, jika tangan kanan tidak mampu mengangkat maka tangan kiri ikut membantu.

Memaknai nilai filosofi sejarah "Watu Sadundu" ini masyarakat sekitar berharap agar ada perhatian khusus dari pemerintah kabupaten Bima untuk dibuatkan akses jalan sehingga keberadaan "Watu Sadundu" bisa menjadi destinasi wisata sejarah dan pegunungan yang menarik.  (JE-05)
Diberdayakan oleh Blogger.