Opini: Dari Tradisi Turun-Temurun ke Pergeseran Makna, THR Dulu dan Sekarang
Oleh: Redaksi
Tradisi berbagi saat Hari Raya sejatinya bukan hal baru dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Jauh sebelum istilah Tunjangan Hari Raya (THR) dikenal luas seperti sekarang, budaya memberi sudah hidup dan diwariskan secara turun-temurun.
Pada masa lalu, khususnya di pedesaan, masyarakat mengenal kebiasaan saling berbagi menjelang Idulfitri. Orang tua memberikan uang atau makanan kepada anak-anak, tetangga saling mengirim hidangan, dan mereka yang berkecukupan membantu yang membutuhkan. Nilai yang dipegang sederhana: kebersamaan dan keikhlasan.
Tidak ada istilah “THR” seperti sekarang. Yang ada hanyalah niat tulus untuk berbagi kebahagiaan.
Seiring perkembangan zaman, istilah THR mulai populer dan kemudian memiliki makna resmi dalam dunia kerja—yakni kewajiban perusahaan kepada karyawan. Namun di sisi lain, masyarakat tetap mempertahankan tradisi lama, hanya saja dengan penyebutan yang berbeda.
Sayangnya, di era modern ini, terjadi pergeseran yang cukup terasa.
Budaya memberi yang dahulu bersifat sukarela perlahan berubah menjadi ekspektasi sosial. Bahkan dalam beberapa kasus, berkembang menjadi kebiasaan meminta. Tidak sedikit pihak yang merasa “berhak” mendapatkan THR, meskipun tidak memiliki hubungan kerja maupun kedekatan sosial yang jelas.
Padahal jika menilik ke belakang, tradisi turun-temurun justru mengajarkan hal sebaliknya.
Dalam nilai-nilai lama, memberi adalah bentuk kepedulian, bukan kewajiban. Tidak ada tekanan, tidak ada permintaan, apalagi paksaan. Semua dilakukan atas dasar kesadaran dan rasa empati.
Perubahan pola pikir inilah yang patut menjadi perhatian bersama. Ketika tradisi diwariskan tanpa menjaga nilai dasarnya, maka yang tersisa hanyalah kebiasaan tanpa makna.
Hari Raya seharusnya menjadi momentum untuk menghidupkan kembali semangat lama—berbagi dengan tulus, mempererat hubungan sosial, dan saling meringankan beban tanpa pamrih.
Sudah saatnya masyarakat kembali memahami bahwa THR dalam tradisi bukan soal siapa yang memberi atau menerima, melainkan tentang keikhlasan yang mengikat kebersamaan.
Jika nilai itu kembali dijaga, maka tradisi turun-temurun tidak akan sekadar bertahan, tetapi juga tetap bermakna di tengah perubahan zaman.
