HEADLINE
Mode Gelap
Artikel teks besar

Ibu Korban Dugaan Kekerasan Anak di Sukabumi Pertanyakan Lambannya Proses Hukum, Kasus Masih Menunggu Hasil Forensik

Sukabumi — Proses penanganan dugaan kasus kekerasan terhadap anak di wilayah menuai sorotan. Seorang ibu berinisial YM (33) mempertanyakan lambannya perkembangan laporan yang telah ia ajukan sejak November 2025.

Laporan tersebut tercatat di dengan nomor LP/B/594/XI/2025/SPKT/Polres Sukabumi. Namun hingga kini, hampir lima bulan berjalan, proses hukum disebut masih dalam tahap menunggu hasil pemeriksaan ahli.

Kasus ini bermula pada 6 Oktober 2025, saat YM membawa anaknya ke RSUD Palabuhanratu karena mengalami keluhan serius disertai pendarahan. Sebelumnya, korban sempat mendapatkan penanganan awal dari seorang tenaga medis.

Hasil pemeriksaan awal medis mengarah pada dugaan adanya tindakan tidak wajar, yang kemudian menjadi dasar bagi YM melaporkan kasus tersebut ke pihak kepolisian.

Namun, hingga kini, perkembangan kasus dinilai belum menunjukkan kemajuan signifikan. YM mengaku kerap menerima jawaban serupa saat menanyakan perkembangan penyelidikan.

“Saya datang ke polisi untuk menanyakan perkembangan, tapi jawabannya masih sama, menunggu hasil ahli forensik dan keterangan dokter,” ujarnya, Senin (06/04/2026).

Menurut YM, penyidik masih menunggu hasil pemeriksaan lanjutan dari ahli forensik serta keterangan tambahan dari dokter yang sebelumnya menangani korban.

Ia juga mengaku mengalami keterbatasan informasi terkait hasil pemeriksaan medis yang menjadi bagian penting dalam pembuktian kasus tersebut.

“Saya hanya mendapat penjelasan terbatas. Katanya tidak bisa disampaikan secara detail,” tuturnya.

YM menegaskan bahwa keterangan yang berkembang dalam proses penyidikan tidak sepenuhnya sesuai dengan yang ia ketahui.

“Saya bantah. Saya tahu betul kondisi anak saya saat itu,” tegasnya.

Di sisi lain, kepolisian disebut tidak dapat memaksakan keterangan dari tenaga medis karena statusnya sebagai saksi. Hal ini membuat proses pembuktian berjalan lambat.

YM bahkan sempat diminta mencari klarifikasi langsung ke pihak rumah sakit. Namun upaya tersebut belum membuahkan hasil karena pihak yang bersangkutan tidak berada di tempat saat didatangi.

Dalam upaya mencari perhatian publik, YM sempat mengunggah video pengakuan anaknya ke media sosial hingga viral. Namun, ia mengaku diminta untuk menghapus video tersebut oleh aparat.

“Saya diminta hapus karena dianggap bisa merusak nama institusi,” katanya.

Ia berharap, penanganan kasus ini dapat segera menemukan titik terang dan memberikan kepastian hukum bagi dirinya dan korban.

“Saya hanya ingin keadilan untuk anak saya. Semoga pelaku segera terungkap,” pungkasnya.

(Evi)