SDN 1 Pawenang Berbenah Lewat Revitalisasi, Sekolah Harap Pembelajaran Lebih Nyaman
Sukabumi — SD Negeri 1 Pawenang, Kecamatan Nagrak, Kabupaten Sukabumi, menjadi salah satu penerima Program Revitalisasi Satuan Pendidikan Tahun Anggaran 2026 dengan nilai bantuan sebesar Rp917.624.630 dari APBN.
Hal tersebut disampaikan Kepala SDN 1 Pawenang, Pera Widya Nurmalita, saat ditemui dalam wawancara pada Senin, 31 Agustus 2026.
Pera menjelaskan, pihak sekolah mengetahui penetapan sebagai penerima program pada awal Juli 2026. Proses tersebut diawali dengan sosialisasi, pemberkasan dan pengunggahan dokumen, kemudian dilanjutkan dengan bimbingan teknis.
“Awal Juli kami mengetahui mendapatkan program ini. Ada sosialisasi, kemudian pemberkasan, upload dokumen dan dilanjutkan bimtek,” ujar Pera.
Menurutnya, program revitalisasi dibutuhkan karena kondisi sarana dan prasarana sekolah masih terbatas. Dari enam ruang yang tersedia, salah satunya digunakan sebagai ruang administrasi sehingga terdapat ruang yang harus digunakan untuk dua rombongan belajar.
Adapun pekerjaan yang dilakukan meliputi pembangunan ruang administrasi, pembangunan toilet, rehabilitasi tiga ruang kelas dan pemagaran. Pembongkaran bangunan mulai dilakukan pada awal Agustus 2026.
Pera menilai revitalisasi tersebut akan memberikan manfaat bagi guru dan siswa, terutama dalam menciptakan ruang belajar yang lebih nyaman serta memenuhi kebutuhan fasilitas sekolah.
“Guru nantinya memiliki ruang administrasi sendiri, anak-anak juga punya ruang kelas masing-masing, dan untuk urusan MCK sudah tersedia di sekolah,” katanya.
Pihak sekolah juga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah pusat selaku penyedia anggaran serta pemerintah daerah yang turut memberikan dukungan terhadap pelaksanaan program.
Pera berharap peningkatan sarana dan prasarana tersebut dapat mendukung proses pembelajaran dan berdampak terhadap peningkatan hasil belajar siswa.
Sementara itu, Ketua P2SP SDN 1 Pawenang, Nana Sudjana, mengatakan pelaksanaan revitalisasi dilakukan dengan mengacu pada RAB, gambar teknis dan spesifikasi material yang telah ditentukan.
Menurut Nana, pengadaan material terlebih dahulu dikoordinasikan dengan pengawas dan perencana untuk memastikan kesesuaiannya dengan kebutuhan pekerjaan.
“Kami ketika belanja material selalu berkoordinasi dengan pengawas dan perencana, apakah sesuai atau tidak,” kata Nana.
Pengawasan pekerjaan, lanjutnya, dilakukan oleh pengawas, perencana, P2SP serta melibatkan masyarakat sekitar. Ia menyebut warga yang terlibat dalam pekerjaan juga berasal dari orang tua siswa dan masyarakat setempat.
Terkait progres pekerjaan, Nana memperkirakan pelaksanaan fisik saat ini berada pada kisaran 40 hingga 45 persen. Namun, angka tersebut masih akan diverifikasi melalui pemeriksaan dan pengukuran oleh pihak pengawas.
“Untuk progres sekarang mungkin sudah 40–45 persen. Pengawas juga akan survei untuk melihat berapa persennya berdasarkan kurva,” ujarnya.
Nana menambahkan, dari sisi keselamatan kerja, pihaknya menyatakan pekerja telah mendapatkan perlengkapan alat pelindung diri (APD). Selain itu, tersedia kotak P3K dan para pekerja disebut telah didaftarkan dalam BPJS Ketenagakerjaan.
Hingga wawancara dilakukan pada 31 Agustus 2026, Nana menyatakan belum menemukan kendala berarti maupun perubahan pekerjaan dalam pelaksanaan revitalisasi.
Pihak P2SP juga menyatakan terus melakukan koordinasi dengan unsur kewilayahan dan pihak terkait guna memastikan pelaksanaan program berjalan sesuai ketentuan hingga selesai.
(Yosef/Heri)
