Kritisi Rencana Gapura Tri Tangtu Buana, Kang Asep Didi: Sejahterakan Warga Bogor Lebih Penting daripada Bangun Simbol Fisik
Kab. Bogor – Rencana Pemerintah Kabupaten Bogor membangun Gapura Tri Tangtu Buana di setiap kecamatan menuai tanggapan dari berbagai kalangan. Koordinator Wilayah Jawa Barat–Banten Media Nasional POTRET, Asep Didi, menilai pembangunan yang lebih mendesak saat ini adalah peningkatan kesejahteraan masyarakat serta pengurangan kesenjangan sosial dan ekonomi.
Pernyataan tersebut disampaikan Asep Didi pada Minggu (19/7/2026) sebagai respons atas pemberitaan mengenai rencana pembangunan Gapura Tri Tangtu Buana yang disampaikan Bupati Bogor Rudy Susmanto dan mendapat dukungan dari Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (DPKPP) Kabupaten Bogor.
Menurut Asep, pemerintah memiliki kewenangan merancang berbagai program pembangunan. Namun, setiap kebijakan perlu melalui kajian yang matang, baik dari aspek manfaat, kebutuhan masyarakat, kearifan lokal, maupun dampaknya terhadap pembangunan daerah.
"Merencanakan pembangunan tentu merupakan kewenangan pemerintah. Namun sebelum direalisasikan, kebijakan tersebut sebaiknya dikaji secara komprehensif agar benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat," ujarnya.
Asep berpendapat bahwa nilai Tri Tangtu Buana seharusnya tidak hanya diwujudkan dalam bentuk bangunan fisik, tetapi juga tercermin dalam pelaksanaan pemerintahan dan kehidupan bermasyarakat.
Menurutnya, filosofi tersebut mengandung nilai tentang keseimbangan antara kepemimpinan, moralitas, dan masyarakat yang semestinya menjadi landasan dalam menjalankan pemerintahan.
Dalam pandangannya, tantangan yang dihadapi Kabupaten Bogor saat ini, seperti kesenjangan sosial, kemiskinan, dan persoalan ekonomi masyarakat, dinilai lebih membutuhkan perhatian dan penyelesaian secara bertahap.
Ia juga menjelaskan bahwa dalam khazanah budaya Sunda, Tri Tangtu Buana merupakan konsep yang menitikberatkan pada keseimbangan tiga unsur utama, yakni Ratu (pemimpin), Rama (masyarakat), dan Resi (tokoh moral atau cendekiawan). Ketiga unsur tersebut, menurutnya, harus berjalan selaras agar tercipta kehidupan yang harmonis, adil, dan sejahtera.
Selain itu, Asep menguraikan filosofi Bayu, Sabda, dan Hedap yang dimaknai sebagai keselarasan antara niat, ucapan, dan perbuatan. Menurutnya, nilai-nilai tersebut lebih penting diterapkan dalam praktik kehidupan dan penyelenggaraan pemerintahan dibanding sekadar diwujudkan dalam simbol fisik.
"Esensi Tri Tangtu Buana adalah bagaimana nilai-nilai itu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga pembangunan tidak hanya tampak secara fisik, tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat," katanya.
Asep berharap setiap program pembangunan di Kabupaten Bogor dapat disusun berdasarkan skala prioritas yang benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat serta tetap memperhatikan nilai-nilai budaya yang menjadi identitas daerah.
Hingga berita ini disusun, belum terdapat tanggapan resmi dari Pemerintah Kabupaten Bogor maupun DPKPP Kabupaten Bogor terkait pandangan yang disampaikan Asep Didi. Redaksi membuka ruang hak jawab dan hak klarifikasi kepada seluruh pihak sesuai ketentuan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik.
(Ade)
