Tampilkan postingan dengan label Kebudayaan. Tampilkan semua postingan

Jurnal Expose, Kota Bima || Mengisi libur pelayanan dan sambil tetap menjaga jarak sosial sesuai instruksi pemerintah dan protokol kesehatan, Museum Asi Mbojo melakukan penataan ruang dan pemutakhiran data koleksi. (01/04/2020).


Koleksi dikelompokkan sesuai dengan jenis dan fungsi koleksi. Sedangkan ruangan ditata secara tematik berdasarkan koleksi. Setiap ruangan dan  pelataran diberi nama dengan nama Sultan Bima. Misalnya pelataran sebelah utara diberinama Pelataran Sultan Abdul Kahir 1 untuk mengenang jasa Abdul Kahir 1 mendirikan kesultanan Bima. Ruangan Koleksi benda pusaka diberinama Ruang Tatarapa karena isinya sebagian besar koleksi keris tatarapang peninggalan kerajaan Bima. Ruangan dengan koleksi alat kesenian diberinama ruang Iambela untuk mengenang jasa Sultan Bima kedua Abdul Khair Sirajuddin yang memiliki andil besar dalam seni budaya Mbojo.


Aula Rapat bagian dalam sebelah utara diberi nama Aula Rapat Sultan Jamaluddin untuk mengenang kisah perjuangan Sultan Jamaluddin.Kumpulan koleksi alat pertanian diberi nama ruangan Sultan Ismail untuk mengenang jasa Sultan Ismail nenyelamatkan ekonomi Bima setelah letusan Tambora 1815. Demikian pula dengan nama ruangan lainnya. 16 ruangan di Asi Mbojo diberinama dengan nama Sultan Bima.

Ada 396 koleksi di Museum Asi Mbojo. Data semua koleksi telah dilakukan pemutakhiran sejak januari 2020. Sejak Asi Mbojo dijadikan Museum pada tahun 1995, belum ada pemutakhiran data koleksi. Alhamdulillah 20 tahun berlalu, setiap koleksi akan bercerita kepada para pengunjung tentang sejarah, ukuran, bahan pembuatan  dan fungsinya di masa lalu.


Penataan ruang dan pemutakhiran data koleksi bekerja sama dengan STIT Sunan Giri Bima, para budayawan dan sejarahwan serta komunitas pemerhati sejarah dan budaya Bima.

Kita berdoa semoga Corona cepat berlalu. Masyarakat Bima dan wisatawan akan dapat melihat wajah baru penataan koleksi dan ruangan di Museum Asi Mbojo.


Sumber : Kepala UPT Museum Asi Mbojo

Pembukaan_festival_sangiang_api_2019
Peserta Pawai Pembukaan Festival Sangiang Api 2019
Kabupaten Bima - jurnalexpose.com || Ribuan pengunjung dari berbagai masyarakat dan Instansi Pemerintah Kecamatan Wera Kabupaten Bima NTB memadati pantai Sangiang dalam mengikuti Pawai Budaya Pembukaan Festifal Sangiang Api 2019, Rombongan instansi yang ikut Sekolah SD, SMP, Dinas kesehatan, Kepala Kepala Desa, Koramil dan Polsek Wera dan Muspika Kecamatan Wera. (Minggu, 28/7/2019)

Pawai dengan memulai di Desa Rangga Solo pukul 09:18 Wita dengan jarak sekitar satu kilometer dari tempat panggung utama Desa sangiang, tiba di panggung utama sekitar pukul 10:28 wita.

Pembukaan_festival_sangiang_api_2019
Asisten III Setda NTB Ibu Hj.Rostinah Saat Membuka Acara Festival
Dalam pawai tersebut, masyarakat dan instansi peserta pawai mengunakan pakaian adat rimpu mbojo, tiap rombongan menggunakan spanduk identitas instansi masing masing.

Selain pawai mengunaka  pakaian adat rimpu mbojo ada tari hadrah juga satu rombongan pawai berpakaian adat bima dengan masing peserta memegang tombak yang sempat mewarnai iring iringan rombongan pawai hingga masyarakat yang hadir menonton memadati sisi jalan merasa terhibur

Tarian Pasapu monca oleh Sanggar Lasinta SMAN 3 Wera
Acara dibuka Asisten III Setda NTB Ibu Hj.Rostinah, yang sebelumnya ditampilkan beberapa acara kesenian oleh sanggar Lasinta SMAN 3 Wera yang menampilkan tari Pasapu monca, Tarian poco poco massal dari ibu ibu PKK Desa Sangiang, Tari silat dari sanggar IKE PE,I kera sakti Desa Tawali

Di panggung acara, berjejer para pejabat dari Pemerinta Daerah Kabupaten Bima dan pejabat dari Pemerintah Daerah Propinsi NTB diantaranya Dinas pariwisata, asisten III propinsi NTB dan Muspida Kabupaten Bima dan Muspika Kecamatan Wera.

Sebagai informasi, acara yang sedianya dibuka langsung Bapak Gubernur Dr. Zulkifliemansyah, namun karena padatnya acara Gubernur tidak bisa menghadiri acara Festifal Sangiang Api 2019(JE05)
Diberdayakan oleh Blogger.