HEADLINE
Mode Gelap
Artikel teks besar

Es Jadul Hunkue: Jajanan Tradisional yang Melegenda, Aman dan Kaya Nilai Budaya

Es jadul berbahan tepung hunkue merupakan salah satu jajanan tradisional yang telah dikenal luas oleh masyarakat Indonesia sejak puluhan tahun lalu. Jajanan ini kerap dijumpai di lingkungan sekolah, pasar tradisional, hingga perkampungan, terutama saat musim panas tiba. Ciri khasnya terletak pada warna-warna cerah, tekstur kenyal, serta rasa manis dan gurih yang sederhana namun melekat di ingatan banyak orang.

Belakangan, es hunkue kembali menjadi perbincangan publik setelah muncul video viral di media sosial yang menuding jajanan tersebut terbuat dari bahan spons atau busa. Tuduhan itu sontak menimbulkan keresahan masyarakat dan kekhawatiran orang tua terhadap keamanan jajanan anak. Padahal, secara turun-temurun, es hunkue dikenal sebagai pangan olahan yang aman dikonsumsi jika dibuat sesuai resep dan standar kebersihan.

Apa Itu Tepung Hunkue?

Tepung hunkue adalah tepung pati kacang hijau yang telah lama digunakan dalam berbagai olahan makanan tradisional, seperti kue lapis, puding, dan aneka jajanan pasar. Ketika dimasak dengan air dan gula, tepung hunkue akan berubah menjadi adonan kental dengan tekstur kenyal dan elastis.

Tekstur inilah yang sering disalahartikan sebagai bahan spons atau busa oleh sebagian orang yang tidak familiar dengan proses pembuatannya. Padahal, sifat kenyal tersebut merupakan karakter alami pati yang telah dimasak dan didinginkan.

Proses Pembuatan Es Hunkue

Secara umum, es jadul hunkue dibuat dari bahan-bahan sederhana, antara lain:

  • Tepung hunkue (pati kacang hijau)
  • Air
  • Gula pasir
  • Santan (opsional)
  • Pewarna makanan yang aman
  • Perisa alami atau sintetis sesuai takaran

Semua bahan dimasak hingga matang, kemudian dituangkan ke dalam cetakan berlapis warna. Setelah dingin dan mengeras, adonan dipotong-potong dan dibekukan. Hasil akhirnya adalah es kue berlapis warna yang kenyal, segar, dan manis.

Mengapa Es Hunkue Bisa Disalahpahami?

Kesalahpahaman sering muncul karena cara uji yang keliru, seperti dibakar dengan api atau diperas. Tepung pati yang sudah matang dan membeku memang tidak langsung meleleh seperti es batu, sehingga memicu kecurigaan. Padahal, metode tersebut bukan cara ilmiah untuk menentukan keamanan pangan.

Keamanan makanan seharusnya ditentukan melalui uji laboratorium, bukan asumsi visual. Hal inilah yang kemudian ditegaskan oleh aparat dan instansi kesehatan dalam menanggapi isu viral terkait es jadul hunkue.

Hasil Uji Laboratorium: Aman Dikonsumsi

Menindaklanjuti isu viral, aparat kepolisian bersama tim kesehatan melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap sampel es hunkue. Hasil uji awal hingga pemeriksaan lanjutan di laboratorium menyatakan bahwa es jadul hunkue tidak mengandung bahan berbahaya seperti spons atau Polyurethane Foam (PU Foam), dan aman untuk dikonsumsi.

Klarifikasi ini sekaligus meluruskan informasi keliru yang sempat beredar luas di media sosial dan merugikan pedagang kecil.

Nilai Sosial dan Budaya Es Jadul

Lebih dari sekadar jajanan, es hunkue memiliki nilai nostalgia dan budaya. Bagi banyak orang, es ini mengingatkan masa kecil, kebersamaan di lingkungan kampung, serta kesederhanaan hidup. Pedagang es jadul pun umumnya merupakan pelaku usaha kecil yang menggantungkan penghasilan harian dari jualan tersebut.

Oleh karena itu, penyebaran informasi yang tidak akurat dapat berdampak langsung pada kelangsungan ekonomi pedagang kecil dan menimbulkan stigma yang tidak adil.

Edukasi Konsumen Jadi Kunci

Kasus ini menjadi pengingat pentingnya literasi pangan bagi masyarakat. Konsumen diimbau untuk tidak mudah percaya pada informasi viral tanpa klarifikasi resmi. Sementara aparat dan pemangku kepentingan diharapkan mengedepankan pendekatan edukatif dan ilmiah dalam menangani isu keamanan pangan.

Es jadul hunkue, sebagai bagian dari warisan kuliner Indonesia, patut dijaga eksistensinya—baik dari sisi keamanan, budaya, maupun keberlanjutan ekonomi para pedagang kecil.