HEADLINE
Mode Gelap
Artikel teks besar

Hari Pers Nasional: Menjaga Nurani, Merawat Demokrasi

 
Setiap peringatan Hari Pers Nasional (HPN), publik kembali diingatkan bahwa pers bukan sekadar industri berita, melainkan salah satu pilar utama demokrasi. Pers hadir untuk memastikan suara rakyat tetap terdengar, kekuasaan tetap diawasi, dan kebenaran tidak tenggelam oleh kepentingan.

Di tengah derasnya arus informasi digital, peran pers justru semakin krusial. Media sosial memungkinkan siapa pun menjadi penyampai informasi, tetapi tidak semua informasi lahir dari proses jurnalistik yang bertanggung jawab. Di sinilah pers profesional diuji: bukan siapa yang paling cepat, melainkan siapa yang paling benar.

Pers sejatinya bekerja dengan nurani. Setiap berita idealnya lahir dari verifikasi, keberimbangan, dan itikad baik untuk kepentingan publik. Ketika pers mampu menjaga nilai-nilai tersebut, kepercayaan masyarakat akan tumbuh. Namun ketika pers tergelincir menjadi alat propaganda, sensasi, atau pesanan, maka yang runtuh bukan hanya reputasi media, tetapi juga kualitas demokrasi itu sendiri.

Hari Pers Nasional seharusnya menjadi momentum refleksi, baik bagi insan pers maupun bagi pemangku kepentingan lainnya. Bagi wartawan, HPN adalah pengingat bahwa kebebasan pers selalu datang bersama tanggung jawab etik. Kritik harus tetap tajam, namun berlandaskan fakta. Keberanian harus berjalan seiring dengan integritas.

Di sisi lain, negara dan aparat penegak hukum juga memiliki kewajiban konstitusional untuk melindungi kebebasan pers. Intimidasi, kriminalisasi, dan kekerasan terhadap jurnalis—dalam bentuk apa pun—merupakan ancaman serius bagi demokrasi. Pers yang takut tidak akan mampu menjalankan fungsi kontrol sosial secara maksimal.

Tak kalah penting, masyarakat juga memiliki peran besar. Publik yang kritis dan melek media akan membantu ekosistem pers tetap sehat. Membaca berita secara utuh, tidak mudah terprovokasi judul, serta membedakan antara karya jurnalistik dan opini pribadi di media sosial adalah bentuk dukungan nyata terhadap pers yang berkualitas.

Dalam konteks pembangunan nasional dan daerah, pers juga memiliki posisi strategis sebagai penggerak kesadaran kolektif. Isu lingkungan, pendidikan, ekonomi rakyat, hingga keadilan sosial sering kali menemukan gaungnya justru melalui kerja-kerja jurnalistik yang konsisten dan berani. Banyak perubahan besar berawal dari sebuah laporan kecil yang ditulis dengan kejujuran.

Hari Pers Nasional bukan sekadar seremoni tahunan. Ia adalah pengingat bahwa demokrasi tidak pernah selesai diperjuangkan. Selama masih ada ketimpangan, penyalahgunaan kewenangan, dan suara masyarakat yang terpinggirkan, selama itu pula pers dibutuhkan untuk berdiri di garis depan.

Akhirnya, pers yang kuat bukanlah pers yang kebal kritik, melainkan pers yang terus belajar, berbenah, dan setia pada kebenaran. Di Hari Pers Nasional ini, mari kita jaga pers tetap merdeka, bermartabat, dan berpihak pada kepentingan publik. Karena ketika pers kehilangan nuraninya, bangsa ini kehilangan salah satu kompas utamanya.

( Red )