HEADLINE
Mode Gelap
Artikel teks besar

Tim Monev KKN Umbara Tekankan Program Berdampak Nyata dan Berkelanjutan bagi Masyarakat


Kab. Bogor — Tim Monitoring dan Evaluasi (Monev) Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Universitas Muhammadiyah Bogor Raya (Umbara) menegaskan pentingnya pelaksanaan KKN yang tidak bersifat seremonial, melainkan memberikan dampak langsung dan berkelanjutan bagi masyarakat.

Penegasan tersebut disampaikan saat Tim Monev melakukan kunjungan ke Posko KKN RT 01/10, Desa Ciadeg, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor, Selasa–Rabu (8–9/2/2026).

Tim Monev turun langsung ke lapangan untuk memantau pelaksanaan program mahasiswa sekaligus memastikan kegiatan yang dijalankan relevan dengan kebutuhan masyarakat setempat. Kunjungan dipimpin oleh Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Umbara, Wawan, didampingi Direktur Pusat Penjaminan Mutu Umbara, Irma Ohyo.

Dalam kunjungan tersebut, tim melakukan pendekatan dialogis melalui diskusi terbuka bersama mahasiswa dan masyarakat. Diskusi difokuskan pada evaluasi program, identifikasi kendala di lapangan, serta perumusan solusi yang aplikatif.

“Kegiatan monitoring ini kami fokuskan pada diskusi. Kami ingin mengetahui sejauh mana program mahasiswa berjalan, apa saja kendalanya, dan bagaimana solusi yang dirumuskan agar benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” ujar Irma Ohyo.

Irma menegaskan bahwa pelaksanaan KKN harus mengedepankan kebermanfaatan nyata dan kesinambungan program, bukan sekadar memenuhi kewajiban akademik.

“Program pendidikan, termasuk KKN, harus berdampak. Mahasiswa hadir untuk membantu mengidentifikasi persoalan di masyarakat dan ikut berkontribusi dalam upaya penyelesaiannya,” jelasnya.

Umbara mengarahkan program KKN Tematik pada sejumlah sektor prioritas, antara lain pemberdayaan masyarakat khususnya kewirausahaan dan UMKM, pendidikan dan literasi masyarakat, lingkungan dan kebersihan, kesehatan, serta penguatan ekonomi lokal. Seluruh program tersebut diselaraskan dengan kebijakan pemerintah, termasuk Asta Cita dan Sustainable Development Goals (SDGs).

Berdasarkan hasil pemantauan, Tim Monev menilai program yang dijalankan mahasiswa cukup inovatif dan menyentuh persoalan nyata di masyarakat, seperti pengelolaan sampah yang belum terorganisir, rendahnya literasi kebersihan, serta minimnya pemahaman pelaku UMKM terkait legalitas usaha.

Mahasiswa KKN Umbara aktif melakukan pendampingan pengelolaan sampah berbasis lingkungan, pendampingan UMKM, fasilitasi pembuatan Nomor Induk Berusaha (NIB), hingga pendampingan sertifikasi halal. Selain itu, mahasiswa juga turut mempromosikan produk pangan lokal dan makanan khas daerah sebagai bagian dari upaya penguatan ekonomi masyarakat.

Ketua KKN, Asep Muhendar, menyampaikan bahwa kegiatan KKN menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa untuk belajar langsung dari masyarakat sekaligus menerapkan ilmu yang diperoleh di bangku perkuliahan.

“KKN ini mengajarkan kami untuk lebih peka terhadap persoalan di masyarakat. Kami berupaya hadir bukan hanya menjalankan program, tetapi juga membangun kebersamaan dan memberikan manfaat yang bisa dirasakan, meski sederhana,” ujar Asep.

Ia berharap program yang telah dirintis mahasiswa dapat terus dilanjutkan dan dikembangkan oleh masyarakat setempat setelah masa KKN berakhir.

“Kami berharap apa yang sudah kami mulai bisa menjadi pemicu kemandirian masyarakat, khususnya dalam pengelolaan lingkungan dan penguatan UMKM,” tambahnya.

Sementara itu, Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Umbara, Wawan, menegaskan bahwa UMKM merupakan tulang punggung perekonomian.

“Pengalaman menunjukkan bahwa ketahanan ekonomi justru banyak ditopang oleh industri kecil. Karena itu, UMKM harus terus didorong untuk tumbuh dan berkembang,” ujarnya.

Wawan menambahkan, pelaksanaan KKN Umbara sejalan dengan visi kampus sebagai universitas unggul, berjiwa entrepreneur, dan religius.

Menjelang akhir masa pengabdian, Irma Ohyo berpesan agar mahasiswa memaksimalkan sisa waktu KKN dengan meninggalkan dampak positif yang berkelanjutan bagi masyarakat.

“Tinggalkan kesan baik dan kebermanfaatan yang nyata. Terus suarakan literasi—bukan hanya pendidikan, tetapi juga lingkungan, kebersihan, kesehatan, dan kewirausahaan,” pungkasnya.

( Red )