HEADLINE
Mode Gelap
Artikel teks besar

Dari Kabut Abad ke-4 hingga Lahirnya Padjadjaran: Kisah Besar yang Membentuk Tanah Sunda

Bayangkan Jawa Barat hampir 1.700 tahun lalu.

Belum ada Bogor yang ramai. Belum ada jalan raya, kendaraan, atau gedung-gedung tinggi. Yang terdengar hanyalah suara hutan lebat, aliran sungai besar, dan ombak yang menghantam pesisir utara Pulau Jawa.

Namun di balik rimba yang tampak sunyi itu, sebuah peradaban besar mulai bangkit.

Awal Mula: Abad ke-4 Masehi

Sekitar tahun 358 Masehi, di wilayah yang kini dikenal sebagai Jawa Barat, berdiri sebuah kerajaan yang kelak menjadi cikal bakal kejayaan Sunda, yaitu Kerajaan Tarumanagara. Kerajaan ini termasuk salah satu kerajaan tertua di Nusantara dan mencapai puncak kejayaan pada abad ke-5 di bawah Raja Purnawarman.

Konon, Purnawarman bukan sekadar raja biasa.

Namanya diabadikan dalam prasasti-prasasti batu yang masih dapat ditemukan hingga kini di kawasan Bogor, Bekasi, Jakarta, dan Banten. Dalam prasasti tersebut, ia digambarkan sebagai pemimpin kuat yang membangun saluran air raksasa untuk mengendalikan banjir dan mengairi sawah rakyatnya.

Saat kerajaan-kerajaan lain masih tumbuh, Tarumanagara telah menjalin hubungan dagang dengan India dan Tiongkok. Kapal-kapal asing datang membawa sutra, rempah, logam mulia, dan berbagai barang berharga.

Tetapi seperti semua kerajaan besar, kejayaan tidak berlangsung selamanya.

Misteri Runtuhnya Tarumanagara

Memasuki abad ke-7, nama Tarumanagara perlahan menghilang dari catatan sejarah.

Para ahli meyakini kerajaan ini melemah akibat perubahan politik dan tekanan dari kekuatan maritim Sriwijaya yang saat itu sedang berkembang pesat di Sumatra.

Lalu muncul pertanyaan besar:

Apa yang terjadi dengan rakyat dan bangsawan Tarumanagara?

Jawabannya membawa kita pada lahirnya dua kerajaan yang kelak menentukan nasib Tanah Sunda.

Pecahnya Kerajaan Menjadi Dua Kekuatan

Pada tahun 669 M, Raja Tarusbawa menggantikan raja terakhir Tarumanagara. Ia kemudian mengubah nama kerajaan menjadi Kerajaan Sunda. Namun keputusan ini memicu perpecahan. Wretikandayun yang berkuasa di wilayah timur menuntut pemisahan kekuasaan. Akhirnya wilayah Tarumanagara dibagi menjadi dua kerajaan: Sunda di barat dan Galuh di timur, dengan Sungai Citarum sebagai batasnya.

Sejak saat itu, dua saudara tua ini hidup berdampingan.

Kadang bersahabat.

Kadang bersaing.

Kadang pula saling berebut pengaruh.

Intrik, Perebutan Tahta, dan Legenda Ciung Wanara

Masa-masa Kerajaan Galuh dipenuhi kisah yang hingga kini masih hidup dalam budaya Sunda.

Salah satunya adalah legenda Ciung Wanara, cerita tentang seorang anak yang dibuang sejak kecil namun kemudian kembali untuk merebut haknya sebagai pewaris kerajaan.

Walaupun kisah tersebut bercampur antara sejarah dan legenda, cerita itu menggambarkan bagaimana kerasnya perebutan kekuasaan pada masa kerajaan-kerajaan Sunda kuno.

Berabad-abad lamanya, Sunda dan Galuh mengalami pasang surut kekuasaan.

Raja berganti raja.

Istana berpindah istana.

Peperangan dan persekutuan datang silih berganti.

Namun perlahan, takdir keduanya mulai mengarah pada satu tujuan.

Tragedi yang Mengguncang Tanah Sunda

Pada tahun 1357, terjadi peristiwa yang hingga kini masih dikenang sebagai luka sejarah masyarakat Sunda.

Namanya Perang Bubat.

Rombongan Kerajaan Sunda datang ke Majapahit untuk melangsungkan pernikahan antara Dyah Pitaloka dan Raja Hayam Wuruk. Namun perbedaan pandangan politik berujung pada bentrokan yang menyebabkan gugurnya Raja Sunda beserta pengiringnya.

Tragedi itu mengguncang kehormatan Kerajaan Sunda.

Nama Dyah Pitaloka kemudian dikenang sebagai simbol harga diri dan pengorbanan.

Lahirnya Sang Legenda: Padjadjaran

Setelah melewati ratusan tahun konflik, perpecahan, dan pergantian dinasti, akhirnya pada abad ke-15 muncul seorang tokoh yang berhasil menyatukan kembali warisan Sunda dan Galuh.

Dialah Sri Baduga Maharaja.

Nama yang lebih dikenal masyarakat sebagai Prabu Siliwangi.

Pada tahun 1482, ia menyatukan kembali Sunda dan Galuh serta menjadikan Pakuan Padjadjaran sebagai pusat kerajaan. Peristiwa ini dianggap sebagai awal kejayaan Kerajaan Padjadjaran.

Di bawah kepemimpinannya, Padjadjaran berkembang menjadi kerajaan besar yang disegani di Tatar Sunda.

Rakyat hidup makmur.

Perdagangan berkembang.

Budaya Sunda mencapai puncak kejayaannya.

Dan dari sinilah lahir berbagai kisah yang masih diceritakan hingga sekarang—tentang Prabu Siliwangi, pasukan maung putih, hutan-hutan keramat, hingga misteri hilangnya sang raja yang menjadi bagian dari legenda terbesar masyarakat Sunda.

Karena sesungguhnya, kisah Padjadjaran bukanlah cerita tentang sebuah kerajaan.

Ia adalah akhir dari perjalanan panjang yang dimulai sejak abad ke-4, ketika Tarumanagara pertama kali bangkit dari tepian Sungai Citarum dan menorehkan jejak peradaban yang kelak melahirkan kejayaan Tanah Sunda.

Naskah ini di ambil dari berbagai sumber : ikuti kisah disini !!!