INDODAX Ingatkan Keamanan Aset Kripto: Ancaman Digital Kini Banyak Menyasar Pengguna
Jakarta – Perkembangan teknologi keamanan digital yang semakin maju belum sepenuhnya menghilangkan ancaman kejahatan siber. Saat ini, pelaku justru mulai mengubah strategi dengan menyasar faktor manusia melalui berbagai modus seperti social engineering, phishing, hingga pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Chief Information Security Officer (CISO) INDODAX, Ledy, menyampaikan bahwa keamanan aset kripto tidak hanya bergantung pada sistem teknologi, tetapi juga kesadaran dan kebiasaan pengguna dalam menjaga keamanan digital.
Hal tersebut disampaikan dalam diskusi bertajuk “Beyond Code: The Human Side of Crypto Security” yang digelar INDODAX bersama komunitas blockchain, pelaku industri, dan pengguna aset kripto dengan tema “Security Starts With You”.
Menurut Ledy, pola serangan siber saat ini mengalami perubahan. Jika sebelumnya pelaku lebih banyak mencoba membobol sistem, kini mereka lebih sering memanfaatkan kelemahan manusia melalui manipulasi informasi dan rekayasa sosial.
“Banyak orang masih menganggap ancaman terbesar berasal dari peretasan sistem. Padahal, dalam berbagai kasus, pelaku justru mendapatkan akses karena pengguna tanpa sadar memberikan informasi penting atau membuka tautan yang menyerupai layanan resmi,” ujar Ledy.
Ia menjelaskan, perkembangan teknologi AI turut membuat modus penipuan digital semakin sulit dikenali. Pelaku dapat memanfaatkan teknologi seperti deepfake, voice cloning, hingga penyamaran identitas untuk meyakinkan korban.
Berdasarkan laporan NordStellar, pembahasan terkait layanan Deepfake-as-a-Service (DFaaS) di sejumlah forum digital meningkat sepanjang Januari hingga Mei 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa teknologi manipulasi digital semakin mudah dimanfaatkan untuk berbagai bentuk penipuan.
Selain itu, teknologi AI voice cloning juga memungkinkan seseorang membuat tiruan suara yang sangat mirip dengan suara asli melalui sampel audio singkat. Hal ini menjadi salah satu tantangan baru dalam meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap penipuan berbasis identitas.
Ledy mengingatkan masyarakat agar selalu melakukan verifikasi sebelum mempercayai informasi, terutama yang berkaitan dengan akun, layanan digital, maupun aset kripto.
“Di INDODAX kami tidak memiliki nomor WhatsApp Customer Support resmi. Seluruh layanan hanya melalui kanal resmi perusahaan. Masyarakat perlu membiasakan diri melakukan pengecekan dan riset mandiri sebelum mengambil keputusan,” jelasnya.
Ia menambahkan, keamanan digital harus dibangun melalui kebiasaan sederhana seperti menjaga kerahasiaan data pribadi, menggunakan fitur keamanan tambahan, tidak mudah mengklik tautan mencurigakan, serta memastikan informasi berasal dari sumber terpercaya.
“Platform dapat menyediakan berbagai lapisan keamanan, tetapi keputusan akhir tetap berada di tangan pengguna. Karena itu, kewaspadaan dan literasi keamanan digital menjadi bagian penting dalam menjaga aset digital,” katanya.
INDODAX menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat sistem keamanan platform sekaligus meningkatkan edukasi masyarakat terkait ancaman digital, termasuk phishing, social engineering, penyalahgunaan identitas, dan modus penipuan berbasis AI.
Melalui peningkatan literasi keamanan digital, masyarakat diharapkan dapat menggunakan aset kripto secara lebih aman, bijak, dan bertanggung jawab.
(Hkz)
