Kerajaan Galuh: Negeri Para Raja yang Terlupakan
Namanya mungkin tidak sepopuler Majapahit atau Sriwijaya, namun jejak sejarahnya tersimpan dalam legenda, peperangan, dan kisah para raja yang penuh intrik.
Lahir dari Perpecahan Kerajaan Besar
Kisah Galuh bermula pada abad ke-7 Masehi.
Saat itu, Kerajaan Tarumanagara yang pernah berjaya mulai mengalami kemunduran. Raja Tarusbawa yang memimpin kerajaan berusaha mempertahankan kekuasaan dengan mengubah nama kerajaan menjadi Sunda.
Namun di wilayah timur, seorang penguasa bernama Wretikandayun memiliki ambisi besar.
Ia menuntut kemerdekaan wilayah Galuh dari kekuasaan Sunda.
Permintaan itu akhirnya disetujui.
Maka pada tahun 670 Masehi lahirlah Kerajaan Galuh, sebuah kerajaan yang berdiri di wilayah timur Sungai Citarum hingga daerah Jawa Tengah bagian barat.
Wretikandayun Sang Pendiri
Legenda menyebutkan Wretikandayun sebagai pemimpin yang bijaksana dan memiliki kemampuan politik luar biasa.
Ia membangun pusat pemerintahan di daerah yang kini diyakini berada di sekitar Ciamis, Jawa Barat.
Dari sinilah Galuh berkembang menjadi kerajaan yang kuat dan disegani.
Rakyat hidup dari pertanian, perdagangan, serta pemanfaatan sungai-sungai besar yang membelah wilayah kerajaan.
Perebutan Tahta Berdarah
Namun kejayaan Galuh tidak selalu berjalan mulus.
Setelah wafatnya para raja, perebutan kekuasaan sering terjadi.
Salah satu kisah yang paling terkenal adalah legenda Ciung Wanara.
Konon, seorang pangeran bernama Ciung Wanara dibuang sejak bayi akibat intrik istana.
Ia kemudian tumbuh di luar lingkungan kerajaan tanpa mengetahui asal-usulnya.
Ketika dewasa, takdir membawanya kembali ke Galuh.
Dengan kecerdasan dan keberaniannya, Ciung Wanara berhasil mengungkap kebenaran dan merebut kembali haknya sebagai pewaris tahta.
Hingga kini, kisah Ciung Wanara masih menjadi cerita rakyat paling terkenal di tanah Sunda.
Masa Keemasan Galuh
Pada masa kejayaannya, Galuh menjadi salah satu kekuatan terbesar di Jawa Barat.
Wilayahnya membentang luas dari Priangan Timur hingga perbatasan Jawa Tengah.
Kerajaan ini menjalin hubungan dengan berbagai kerajaan Nusantara dan menjadi bagian penting dalam perkembangan budaya Sunda.
Di istana Galuh berkembang sastra, kepercayaan Hindu-Buddha, serta tradisi yang kemudian diwariskan kepada generasi berikutnya.
Menjelang Lahirnya Padjadjaran
Memasuki abad ke-14 hingga ke-15, hubungan antara Kerajaan Sunda dan Galuh semakin erat.
Melalui pernikahan politik dan pergantian dinasti, kedua kerajaan perlahan kembali bersatu.
Puncaknya terjadi ketika naik tahta.
Ia berhasil menyatukan kembali warisan Sunda dan Galuh.
Dari penyatuan itulah lahir , yang kemudian menjadi simbol kejayaan terbesar masyarakat Sunda.
Warisan yang Tak Pernah Hilang
Meski Kerajaan Galuh telah lama hilang dari panggung sejarah, namanya tetap hidup dalam budaya Sunda.
Di tanah Ciamis terdapat situs-situs kuno yang diyakini berkaitan dengan Galuh, seperti yang menyimpan prasasti peninggalan kerajaan.
Galuh bukan sekadar kerajaan yang hilang ditelan zaman.
Ia adalah akar dari peradaban Sunda, tempat lahirnya para raja, legenda, dan kisah-kisah yang masih diceritakan hingga hari ini.
Tanpa Galuh, mungkin tidak akan pernah ada Padjadjaran. Dan tanpa Padjadjaran, sejarah besar Tanah Sunda tidak akan pernah tercipta.
