HEADLINE
Mode Gelap
Artikel teks besar

Serangan Siber Kripto Tembus Hampir US$1 Miliar, INDODAX Ungkap AI Jadi Kunci Perkuat Keamanan Blockchain Masa Depan

Jakarta — Ancaman serangan siber terhadap ekosistem aset kripto terus berkembang dengan pola yang semakin kompleks. Sepanjang semester pertama 2026, kerugian akibat aksi peretasan aset digital secara global tercatat hampir menyentuh angka US$1 miliar.

Berdasarkan data DeFiLlama, sedikitnya 127 insiden keamanan terjadi pada periode Januari hingga Juni 2026 dengan total kerugian sekitar US$947 juta. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pelaku serangan mulai menggunakan metode yang lebih beragam, sehingga industri blockchain membutuhkan sistem keamanan yang mampu beradaptasi lebih cepat.

Kompleksitas ancaman terlihat dari sejumlah kasus besar yang terjadi pada April 2026. Dua insiden yang menimpa Drift Protocol dan KelpDAO tercatat menyebabkan kerugian sekitar US$577 juta. Berdasarkan laporan TRM Labs, kedua kasus tersebut menyumbang sebagian besar nilai aset kripto yang hilang hingga periode tersebut.

Perkembangan serangan tersebut menunjukkan bahwa pelaku tidak hanya mencari celah pada kode program, tetapi juga mulai menyasar infrastruktur blockchain serta memanfaatkan faktor manusia melalui metode social engineering.

Di tengah meningkatnya ancaman, teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai dilirik sebagai salah satu solusi untuk memperkuat keamanan blockchain.

Berbeda dengan metode audit tradisional yang dilakukan secara berkala, AI memungkinkan proses analisis smart contract dan pemantauan risiko dilakukan secara lebih cepat serta berkelanjutan. Dengan kemampuan tersebut, potensi kerentanan dapat terdeteksi lebih awal sebelum berkembang menjadi insiden besar.

CEO INDODAX, William Sutanto, menilai perkembangan AI membuka peluang bagi industri kripto untuk membangun sistem keamanan yang lebih proaktif.

"Yang berubah saat ini bukan hanya jumlah serangan, tetapi juga tingkat kompleksitasnya. Pelaku kejahatan siber semakin terorganisir dan menggunakan metode yang semakin sulit dideteksi dengan pendekatan konvensional. Karena itu, sistem keamanan juga harus mampu beradaptasi lebih cepat, dan AI memiliki potensi besar untuk mendukung upaya tersebut," ujar William.

Menurutnya, sejumlah teknologi berbasis AI mulai dikembangkan oleh perusahaan teknologi untuk membantu proses audit, analisis smart contract, hingga pemantauan aktivitas transaksi secara real-time.

Pemanfaatan AI tersebut dinilai dapat membantu melakukan on-chain analysis, membaca perubahan pola perilaku protokol, serta mengenali aktivitas transaksi yang tidak normal lebih cepat.

Namun, William menegaskan bahwa AI bukan satu-satunya solusi dalam menghadapi ancaman keamanan aset digital.

"AI menjadi penguat yang membantu mempercepat deteksi teknis. Tetapi keamanan blockchain tetap membutuhkan perlindungan berlapis, mulai dari tata kelola yang baik, audit independen, pengelolaan akses yang ketat, edukasi pengguna, hingga sumber daya manusia yang memiliki kompetensi," jelasnya.

Ia menambahkan, teknologi tetap membutuhkan peran manusia dalam mengambil keputusan strategis, terutama dalam memastikan keamanan berjalan dengan prinsip integritas dan tanggung jawab.

Menurut William, nilai utama AI ke depan bukan hanya pada kecepatan analisis, tetapi juga kemampuannya melakukan pemantauan risiko secara terus-menerus sehingga industri dapat merespons ancaman lebih cepat.

"Keamanan blockchain ke depan tidak hanya bergantung pada seberapa sering sistem diperiksa, tetapi juga seberapa cepat sistem mampu mendeteksi, menganalisis, dan merespons ancaman yang terus berkembang. Di sinilah AI memiliki peran penting sebagai pendukung sistem keamanan yang lebih adaptif," tutup William.

Sebagai salah satu perusahaan pertukaran aset kripto berlisensi di Indonesia, INDODAX menyatakan komitmennya untuk terus memperkuat standar keamanan dan membangun ekosistem aset digital yang lebih aman bagi pengguna.

(Hkz)