Orang Tua Tiga SDN Keluhkan Menu MBG Sukabumi
Keluhan tersebut ramai dibicarakan melalui grup WhatsApp yang beranggotakan wali murid dan guru dari sejumlah sekolah di wilayah Kalapanunggal. Para orang tua menyoroti waktu kedatangan makanan yang dinilai terlalu lama hingga membuat sebagian siswa memilih tidak menunggu.
Salah seorang wali murid mengungkapkan anaknya memilih pulang karena makanan MBG belum kunjung diterima.
"Putra abdi MH Tika uwih da te ngantosan MBG," tulis salah seorang wali murid dalam percakapan grup. Pernyataan tersebut berarti anaknya pulang karena tidak menunggu makanan MBG.
Keluhan berikutnya menyasar menu MBG. Sejumlah orang tua mengaku sebelumnya mendapat informasi mengenai adanya menu baru. Namun, makanan yang diterima siswa justru memuat sejumlah jenis gorengan.
"Mana siang dongkapna deuih, nyarios namah menu baru," tulis seorang wali murid.
Wali murid lainnya kemudian menyoroti lamanya waktu tunggu makanan.
"Bangunna ngantosan lami teh ngagorengan bala-bala," tulisnya.
Keluhan tersebut tidak berhenti pada persoalan menu. Sejumlah orang tua mengaku khawatir karena anak mereka pulang dalam kondisi lelah setelah menunggu makanan cukup lama.
"Atuh murangkalih teh lesuh sareng ngeluh dongkap ka bumi teh, Bu," tulis salah seorang wali murid.
Menanggapi keluhan tersebut, salah seorang guru, Ai Nurhasanah, memberikan penjelasan melalui grup WhatsApp. Ia mengatakan pihak sekolah tidak memiliki kewenangan dalam menentukan waktu distribusi maupun pengelolaan MBG.
"Muhun, abdi oge da bingung, sanes pihak sakola, tapi pihak MBG na ning anu telat," ujarnya.
Ia juga meminta orang tua menyampaikan keluhan langsung kepada pihak penyelenggara MBG.
"Muhun, pami bade komplen oge kedah ka pihak MBG na, sakola mah teu gaduh wewenang," lanjutnya.
Penjelasan tersebut kemudian dipahami oleh sejumlah wali murid. Mereka menyadari bahwa sekolah bukan pihak yang menentukan waktu pengiriman maupun komposisi makanan yang disalurkan kepada siswa.
Persoalan kini menunggu penjelasan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang bertanggung jawab menyalurkan MBG ke wilayah Kecamatan Kalapanunggal.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak SPPG terkait alasan keterlambatan distribusi maupun komposisi menu yang dipersoalkan orang tua murid.
Klarifikasi dari pihak SPPG menjadi penting agar persoalan tersebut tidak berhenti sebagai keluhan di grup percakapan orang tua. Penjelasan juga diperlukan untuk memastikan apakah waktu distribusi dan menu yang diterima siswa telah sesuai dengan ketentuan program.
Program MBG bertujuan membantu memenuhi kebutuhan gizi peserta didik. Karena itu, keberhasilan pelaksanaannya tidak hanya bergantung pada tersalurnya makanan ke sekolah, tetapi juga pada ketepatan waktu, kualitas, keamanan pangan, kecukupan gizi, dan kesesuaian menu.
Munculnya keluhan dari orang tua siswa di beberapa sekolah di Kecamatan Kalapanunggal menjadi bahan evaluasi bagi pihak terkait. Koordinasi antara SPPG, sekolah, dan orang tua perlu diperkuat agar persoalan distribusi tidak kembali mengganggu waktu makan siswa.
Selain itu, pihak terkait perlu memberikan informasi yang jelas kepada sekolah dan orang tua apabila terjadi perubahan menu maupun kendala distribusi. Dengan demikian, tujuan program MBG dapat berjalan optimal dan kepercayaan masyarakat tetap terjaga.
Awak media membuka ruang hak jawab dan hak koreksi bagi pihak SPPG maupun pihak terkait lainnya sesuai Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.
(Yosep/Benk)
