Warga Minta Maaf, Perekam Video Dicari: Ada Apa di Ranca Bungur?
Kab. Bogor – Bendera Merah Putih diminta berkibar. Warga diingatkan. Namun di Kecamatan Ranca Bungur, Kabupaten Bogor, imbauan soal bendera justru berkembang menjadi cerita yang mengundang tanda tanya.
Sebuah video yang memperlihatkan Nur Hidayat alias Abuy, seorang tukang cukur, viral di media sosial. Dalam rekaman tersebut, Abuy terlihat berada di sekitar kambing ketika Camat Ranca Bungur, Dita Aprillia, S.STP., datang untuk mengingatkan pemasangan bendera Merah Putih dalam rangka HUT ke-81 Republik Indonesia.
Abuy kemudian terdengar mengatakan dirinya “belum merdeka.”
Kalimat pendek. Tetapi rupanya, ceritanya tidak sesingkat itu.
Tak lama kemudian muncul video lain. Seorang pria terdengar berbicara dengan nada tinggi kepada Abuy. Yang membuat publik bertanya, perekam dalam video tersebut terdengar mengatakan “kita dari kecamatan” dan menyebut kegiatan itu akan dilaporkan.
Nah, di sinilah ceritanya mulai menarik.
Siapa sebenarnya orang tersebut?
Apakah benar bagian dari Kecamatan Ranca Bungur? Kalau benar, dalam kapasitas apa ia berada di lokasi? Dan siapa yang meminta atau menginstruksikan perekaman tersebut?
Pertanyaan itu muncul setelah Abuy kemudian membuat video klarifikasi dan menyampaikan permintaan maaf. Sementara Camat Ranca Bungur juga memberikan penjelasan bahwa pihak kecamatan tidak pernah melakukan intimidasi.
Camat: Saya Sedang Tidak Sehat
Ketua Forum Jurnalis Peduli Publik (FJP2) Bogor Raya, Ade Suhendar, kemudian meminta penjelasan langsung kepada Camat Ranca Bungur Dita Aprillia melalui WhatsApp pada Kamis, 13 Agustus 2026.
Dita menjelaskan bahwa dirinya sedang dalam kondisi kurang sehat ketika kejadian berlangsung.
Menurut Dita, Sekretaris Kecamatan Ranca Bungur justru berada di lokasi dan berupaya meredakan situasi.
“Pada saat itu justru Pak Sekcam yang melerai. Saya keluar ruangan karena kondisi badan sedang tidak sehat. Pak Sekcam sedang mengimbau pemasangan bendera kepada kantor Pegadaian yang lokasinya bersebelahan dengan tukang cukur,” ujar Dita.
Dita bahkan mengaku sempat meminta Sekcam membantu meredakan situasi karena khawatir terjadi perselisihan.
“Saya sampaikan, ‘Pak Sekcam itu tolong bantu dilerai, khawatir jadi marah-marah, bahasanya tidak bagus. Masa ngasih tahu warga bahasanya seperti itu,’” ungkapnya.
Dita kemudian memilih berada di depan kantor Pegadaian karena mencari tempat untuk beristirahat. Sementara Sekcam disebut masuk ke lokasi tukang cukur.
Situasi pun akhirnya dapat dilerai.
Tetapi video sudah telanjur beredar.
Satu Kalimat yang Mengundang Pertanyaan
Bagi Ade, persoalan justru tidak berhenti pada video Abuy.
Ada video lain yang menjadi perhatian.
Dalam rekaman tersebut, terdengar perekam mengatakan “kita dari kecamatan” dan menyebut kegiatan itu akan dilaporkan.
Ade menilai pernyataan tersebut perlu dijelaskan agar tidak menimbulkan kesimpulan liar di tengah masyarakat.
“Kalau memang benar perekam mengatakan ‘kita dari kecamatan’, publik tentu berhak mendapatkan penjelasan siapa sebenarnya orang tersebut. Apalagi terdengar juga pernyataan bahwa kegiatan itu akan dilaporkan. Ini yang membuat persoalan menjadi janggal,” kata Ade.
Pertanyaannya sederhana.
Siapa orangnya?
Apakah dia pegawai kecamatan? Aparatur? Petugas? Atau warga biasa yang kebetulan berada di lokasi?
Dan kalau memang bukan bagian dari Kecamatan Ranca Bungur, mengapa menggunakan kalimat “kita dari kecamatan”?
Camat: Orangnya Belum Diketahui
Dita kemudian memberikan jawaban yang justru membuka pertanyaan baru.
Menurutnya, pihak kecamatan hingga kini belum mengetahui keberadaan orang yang dimaksud.
“Sampai saat ini orang tersebut tidak diketahui keberadaannya dan sedang dalam proses pencarian. Sehingga kami belum dapat menghadirkan,” jawab Dita.
Dita juga menegaskan bahwa dirinya tidak pernah memberikan instruksi kepada orang tersebut untuk melakukan tindakan sebagaimana yang terdengar dalam video.
“Terlepas dari yang bersangkutan mengatakan ‘kita dari kecamatan’ dan ‘kegiatan ini nanti akan dilaporkan’, saya tidak pernah menginstruksikan kepada yang bersangkutan,” katanya.
Kalau begitu, siapa dia?
Inilah titik yang menurut FJP2 Bogor Raya belum mendapatkan jawaban tuntas.
Warga Sudah Minta Maaf, Lalu Bagaimana dengan Perekam?
Ade menilai tidak adil apabila perhatian publik hanya diarahkan kepada Abuy sebagai warga yang akhirnya membuat klarifikasi dan meminta maaf.
Sebab, masih ada pihak lain yang muncul dalam rangkaian video dan menyebut dirinya berasal dari kecamatan.
“Menurut saya kurang elok apabila video klarifikasi hanya dilakukan oleh tukang cukur. Kalau ada pihak lain yang merekam dan kemudian muncul dalam video dengan mengatasnamakan kecamatan, orang tersebut juga semestinya memberikan klarifikasi secara terbuka,” tegas Ade.
Menurutnya, klarifikasi seharusnya tidak berhenti pada satu pihak.
Jika memang tidak ada intimidasi, seluruh rangkaian kejadian dapat dijelaskan secara terbuka. Termasuk siapa yang merekam, dari mana asalnya, serta dalam kapasitas apa yang bersangkutan berada di lokasi.
Bendera Merah Putih Bukan Masalahnya
Ade menegaskan, persoalan ini bukan tentang menolak pemasangan bendera Merah Putih.
Imbauan pemerintah untuk mengibarkan bendera dalam rangka HUT ke-81 Republik Indonesia merupakan hal positif dan selayaknya didukung.
Tetapi cara menyampaikan imbauan juga penting.
“Semangat kemerdekaan jangan sampai justru disampaikan dengan cara yang membuat warga merasa tertekan atau terintimidasi. Pemerintah harus hadir mengedukasi, bukan menimbulkan ketakutan,” tegasnya.
Dengan kata lain, benderanya boleh berkibar tinggi, tetapi jangan sampai komunikasi pemerintah justru membuat warga merasa rendah diri.
FJP2 Minta Semua Dibuka
FJP2 Bogor Raya meminta Kecamatan Ranca Bungur menjelaskan persoalan tersebut secara utuh.
Bukan hanya soal permintaan maaf warga, tetapi juga mengenai identitas dan kapasitas orang yang terdengar mengaku “dari kecamatan” dalam video.
“Jangan sampai kasus ini selesai hanya dengan warga meminta maaf. Kalau memang tidak ada intimidasi, jelaskan secara utuh siapa perekamnya, dari mana asalnya, dan atas dasar apa dia mengatakan ‘kita dari kecamatan’ serta ‘akan dilaporkan’. Publik berhak mendapatkan jawaban yang jelas,” pungkas Ade.
Untuk sementara, satu hal masih belum terjawab.
Warga sudah memberikan klarifikasi. Camat sudah memberikan penjelasan. Tetapi orang yang mengaku ‘dari kecamatan’ dalam video justru disebut masih dicari.
Jadi, ini sebenarnya cerita tentang bendera?
Atau tentang siapa yang berada di balik kamera?
Pertanyaan itu tentu tidak boleh dijawab dengan asumsi. Jawabannya harus datang dari fakta, klarifikasi, dan bukti.
(Ade)
