HEADLINE
Mode Gelap
Artikel teks besar

Pertempuran Yarmuk 636 M: Titik Balik Sejarah Timur Tengah

Yarmuk, 636 M — Sebuah pertempuran besar di lembah Sungai Yarmuk mengubah arah sejarah kawasan Timur Tengah. Peristiwa yang kemudian dikenal sebagai Pertempuran Yarmuk ini mempertemukan pasukan Muslim dengan Kekaisaran Bizantium, salah satu kekuatan militer terbesar dunia saat itu.

Pertempuran terjadi di wilayah Syam, tepatnya di sekitar lembah Sungai Yarmuk yang kini berada di perbatasan Suriah–Yordania. Medan tempur yang berupa dataran luas namun dikelilingi jurang curam dan aliran sungai menjadi faktor penting dalam jalannya pertempuran.

Awal abad ke-7 merupakan masa penuh gejolak. Bizantium baru saja keluar dari perang panjang melawan Persia Sassaniyah. Meski menang, kekaisaran itu mengalami kelelahan militer dan ekonomi.

Di sisi lain, kekuatan Muslim yang baru terkonsolidasi di Jazirah Arab mulai melakukan ekspansi ke wilayah Syam. Pasukan Muslim dipimpin oleh sejumlah komandan, dengan komando lapangan akhirnya berada di tangan Khalid bin Walid, yang dikenal sebagai ahli strategi dan taktik tempur.

Sumber-sumber klasik menyebut jumlah pasukan Bizantium mencapai lebih dari 100.000 orang. Namun, banyak sejarawan modern memperkirakan angka yang lebih realistis berkisar antara 40.000 hingga 60.000 tentara.

Sementara itu, pasukan Muslim diperkirakan berjumlah antara 20.000 hingga 30.000 prajurit.

Meski kalah jumlah, pasukan Muslim mengandalkan mobilitas tinggi dan koordinasi yang rapi. Sebaliknya, formasi besar Bizantium menghadapi tantangan dalam bermanuver di medan yang terbatas.

Pertempuran berlangsung sekitar enam hari pada Agustus 636 M.

Hari-hari awal diwarnai tekanan kuat dari pasukan Bizantium yang mencoba memecah barisan lawan dengan infanteri berat dan kavaleri lapis baja.

Namun strategi Khalid bin Walid terbukti efektif. Ia membentuk unit kavaleri bergerak cepat yang berfungsi sebagai pasukan pemukul, menutup celah pertahanan sekaligus menyerang titik lemah formasi Bizantium.

Pada fase akhir, serangan terkoordinasi ke sisi pasukan Bizantium memicu kepanikan. Terdesak oleh medan sempit dan jurang di sekeliling lembah, pasukan Bizantium kehilangan koordinasi dan akhirnya mundur dalam kekacauan.

Kekalahan di Yarmuk menjadi pukulan besar bagi Bizantium. Wilayah Syam secara bertahap jatuh ke tangan pasukan Muslim. Kota-kota penting seperti Damaskus dan kemudian Yerusalem menyusul.

Sejak saat itu, dominasi Bizantium di wilayah timur berakhir. Peta politik dan kekuasaan di Timur Tengah berubah secara permanen.

Hingga kini, Pertempuran Yarmuk sering dikaji dalam studi militer sebagai contoh klasik bagaimana strategi, mobilitas, dan pemanfaatan medan dapat mengimbangi ketimpangan jumlah pasukan.

Lebih dari sekadar pertempuran, Yarmuk menjadi simbol perubahan besar dalam sejarah peradaban dunia.