HEADLINE
Mode Gelap
Artikel teks besar

Atap Nyaris Roboh, Bantuan Tak Kunjung Datang: Rumah Tatang Masih Menunggu Perhatian Pemdes Pondok Panjang

Lebak, — Di tengah gencarnya program pengentasan kemiskinan, rumah tak layak huni milik Tatang di Kampung Erang, Desa Pondok Panjang, Kecamatan Cihara, Kabupaten Lebak, justru seperti luput dari radar perhatian. Kondisi bangunan yang rapuh dan minim fasilitas masih menjadi saksi keseharian Tatang yang hidup dalam keterbatasan ekonomi.

Pantauan di lokasi menunjukkan rumah tersebut jauh dari standar kelayakan. Dinding dan atap tampak ringkih, sementara sarana pendukung nyaris tak memadai. Warga sekitar menilai kondisi tersebut sudah lama berlangsung dan seharusnya masuk prioritas program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).

Namun hingga kini, bantuan belum juga menghampiri. Saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp, Kepala Desa Pondok Panjang menyampaikan bahwa Tatang memang belum tersentuh bantuan RTLH. Ia menyebutkan bahwa proses pengajuan bantuan berawal dari usulan RT dan RW setempat.

“Yang lebih memahami itu RT dan RW. Maklum desa itu luas, saya banyak kekurangannya,” ujar Kepala Desa Pondok Panjang.

Menurutnya, jika Tatang belum menerima bantuan, perlu ditelusuri terlebih dahulu apakah rumah tersebut pernah diusulkan oleh RT atau RW. Ia juga menyebut bahwa penilaian kebutuhan warga kerap memiliki sudut pandang berbeda di tingkat lingkungan.

“Silakan tanya ke RT. Bisa jadi ada pertimbangan lain soal siapa yang lebih membutuhkan,” tambahnya.

Kepala desa juga menjelaskan bahwa bantuan RTLH yang selama ini masuk ke Desa Pondok Panjang berasal dari BAZNAS, sehingga penerima bantuan merupakan hasil verifikasi lembaga tersebut.

“RTLH yang masuk hanya dari BAZNAS, otomatis yang diverifikasi BAZNAS juga yang menerima,” ungkapnya.

Meski demikian, Kepala Desa Pondok Panjang mengakui bahwa secara pribadi ia menilai rumah Tatang memang layak mendapatkan bantuan. Ia mengklaim pemerintah desa telah beberapa kali mengajukan program RTLH ke Dinas Perkim dan Kementerian Sosial, namun hingga kini belum ada realisasi.

“Kalau secara pribadi, saya juga menilai itu layak. Tapi kami sudah sering mengajukan ke Perkim dan Kemensos, belum terealisasi,” katanya.

Pernyataan tersebut memunculkan sorotan publik. Pasalnya, kondisi Tatang dinilai sudah cukup berbicara tanpa perlu banyak dokumen. Di lapangan, kemiskinan ekstrem terlihat nyata, sementara bantuan masih tertahan di jalur administrasi.

Situasi ini memantik pertanyaan: apakah pendataan warga miskin belum menyentuh realitas lapangan, atau koordinasi antar pihak masih tersendat?

Warga berharap Pemerintah Desa Pondok Panjang tidak berhenti pada saling menunjuk alur, melainkan segera turun langsung dan mengambil langkah konkret agar bantuan RTLH benar-benar menyasar warga yang paling membutuhkan.

Sebab bagi Tatang, waktu bukan sekadar angka—setiap musim hujan adalah ujian ketahanan rumah dan harapan.

Reporter: Heru Kz