HEADLINE
Mode Gelap
Artikel teks besar

Proyek Box Culvert Bohlam–Ciburayut Dipertanyakan: Tanah Belum Padat, Tapi Sudah Digarap — Dinas PUPR ke Mana?

Kab. BogorPemerintah Kabupaten Bogor tampaknya sedang ngebut membangun infrastruktur. Tapi sayangnya, di tengah gencarnya pembangunan, masih saja ada proyek yang dikerjakan seperti “kejar tayang sinetron” — cepat selesai, tapi lupa kualitas.

Sorotan kali ini datang dari proyek rekonstruksi Jalan Bohlam–Ciburayut di Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor. Proyek dengan label mewah hampir Rp924 juta itu kini jadi bahan gunjingan. Pasalnya, di lapangan ditemukan bahwa box culvert dipasang di atas tanah cadas tanpa pemadatan terlebih dahulu.

Alias: belum sempat padat, sudah ditanam.

Tim investigasi yang turun langsung ke lokasi di Kampung Cileungsir, Desa Ciadeg, menemukan bahwa dasar tanah tampak keras, tapi tanpa tanda-tanda pemerataan mekanis atau uji kepadatan. Kalau dalam dunia teknik, ini seperti membangun rumah di atas pasir — berdiri sih bisa, tapi jangan kaget kalau tiba-tiba miring.

Berdasarkan papan proyek, pekerjaan ini masuk dalam Program Penyelenggaraan Jalan Kabupaten/Kota di bawah Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Bogor.

Pelaksana proyek: CV Puji Agung Sakti.

Konsultan pengawas: PT 4Cipta Konsultan.

Masa pelaksanaan: 75 hari kalender sesuai SPMK tertanggal 7 Oktober 2025.

Namun, yang jadi pertanyaan: di mana fungsi pengawasan saat box culvert itu dipasang tanpa pemadatan tanah dasar?

Ketika dikonfirmasi, Andri, pelaksana lapangan dari pihak kontraktor, mengatakan bahwa pekerjaan sudah sesuai rencana teknis.

“Di kontrak kita cuma galian biasa dan gorong-gorong, box culvert-nya dikunci besi struktur di atas sebelum dicor,” ujarnya lewat pesan singkat.

Soal tidak adanya pemadatan, Andri menjawab santai:

“Tanahnya sudah keras kang, jadi cukup aman. Pembesian juga sudah antisipasi.”

Jawaban itu mungkin terdengar meyakinkan — kalau yang membaca bukan orang teknik.

Padahal, tanpa pemadatan dan uji DCP atau sand cone test, daya dukung tanah tidak bisa dipastikan. Akibatnya, kalau satu sisi tanah turun duluan, sambungan antar box culvert bisa retak, air menggerus dasar, dan... proyek pun tinggal kenangan sebelum peresmian.

Warga sekitar pun ikut bersuara.

“Kalau cuma ngandelin tanah keras, nanti pas musim hujan ya amblas. Air kan enggak bisa disogok,” ujar salah seorang warga sambil menunjuk area galian.

Sampai berita ini diterbitkan, pihak Dinas PUPR Kabupaten Bogor dan PT 4Cipta Konsultan belum memberi keterangan resmi. Tim media sudah mencoba menemui pengawas proyek, tapi hasilnya nihil — entah sibuk, entah menghindar.!?

Padahal, proyek senilai hampir seperempat miliar lebih sedikit lagi jadi satu miliar ini dibiayai dari APBD Kabupaten Bogor, alias uang rakyat.

Dan uang rakyat seharusnya diperlakukan dengan hormat, bukan asal cor lalu ditinggal.

Publik kini menunggu:

Apakah Dinas PUPR akan turun tangan, atau justru ikut-ikutan diam?

Sebab kalau kualitas proyek seperti ini terus dibiarkan, bukan cuma jalan yang retak — tapi juga kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.

(Red)