Menapak Jejak Sherly Tjoanda: Dari Ibu Rumah Tangga Aktif Hingga Tragedi Ledakan Taliabu
7/10/2026 12:33:00 PM
Ternate – Perjalanan hidup Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, kini menjadi perhatian publik nasional. Di balik ketegasannya memimpin wilayah kepulauan ini, terdapat rekam jejak panjang mengenai kesehariannya yang dinamis, mulai dari perannya sebagai ibu rumah tangga yang aktif di media sosial, mendampingi sang suami kampanye, hingga menghadapi tragedi memilukan di Pelabuhan Bobong. [1, 2, 3)
Keseharian Sebelum Pencalonan: Kedekatan Digital dan Pendamping Setia
Sebelum melangkah ke panggung politik praktis sebagai calon gubernur, Sherly dikenal luas sebagai sosok ibu rumah tangga yang sangat aktif. Ia memanfaatkan platform media sosial seperti Instagram dan TikTok untuk membagikan rutinitas harian, kegiatan sosial, serta perannya dalam mendukung penuh karier sang suami, mendiang Benny Laos. [1, 2, 3, 4]
Melalui unggahan-unggahannya, perempuan berdarah Ambon ini berhasil membangun kedekatan personal yang kuat dengan masyarakat Maluku Utara. Media sosial bukan sekadar dokumentasi bagi Sherly, melainkan jembatan komunikasi interaktif untuk mendengar cerita dan kebutuhan langsung dari akar rumput. Kesehariannya yang bersahaja namun progresif membuatnya menjadi figur yang sangat familiar di mata publik jauh sebelum masa pemilihan dimulai. [1, 2]
Masa Kampanye: Energi di Atas Gelombang Kepulauan
Saat sang suami maju sebagai calon gubernur terkuat Maluku Utara pada Pilkada 2024, keseharian Sherly berubah menjadi perjalanan maraton dari pulau ke pulau. Ia setia mendampingi setiap agenda blusukan Benny Laos untuk menyapa warga di daerah terpencil. [1, 2]
Salah satu momen yang terekam jelas terjadi hanya delapan jam sebelum peristiwa nahas. Melalui akun media sosialnya, Sherly sempat mengunggah video kebersamaan mereka saat Benny menembus ombak menggunakan perahu kecil demi menyapa warga di Pulau Obi, Halmahera Selatan. Dalam unggahan itu, Sherly yang merasa kelelahan memilih tetap berada di atas kapal utama, namun terus memberikan dukungan moril. Aktivitas intensif di lapangan dan dokumentasi real-time di media sosial menjadi warna utama keseharian mereka selama masa kampanye tersebut. [1, 2]
Tragedi Sabtu Kelam di Pelabuhan Bobong
Keseharian penuh semangat itu mendadak berubah menjadi duka nasional pada Sabtu, 12 Oktober 2024. Berada di Pelabuhan Regional Bobong, Kabupaten Pulau Taliabu, speedboat Bella 72 yang ditumpangi rombongan mereka meledak hebat saat sedang melakukan pengisian bahan bakar. [1, 3]
Sebelum ledakan terjadi, Sherly sempat beristirahat di dalam kamar bagian depan kapal sambil dipijat karena kelelahan setelah agenda kampanye yang padat. Ia sempat mencium bau menyengat bahan bakar, hingga sesaat kemudian ledakan dahsyat mementalkannya ke bagian depan kapal. Dalam kondisi kaki yang terluka bakar stadium dua dan tidak bisa digerakkan, Sherly sempat berupaya menyelam kembali ke belakang kapal untuk mencari suaminya. Sambil menangis, ia akhirnya ditarik oleh warga sekitar ke darat untuk diselamatkan. Tragedi memilukan tersebut merenggut enam nyawa, termasuk Benny Laos. [1, 2, 3, 4, 5, 6]
Insiden ini menjadi titik balik krusial yang kemudian mendorong lahirnya keputusan berani Sherly Tjoanda untuk bangkit dari masa kedukaan, melanjutkan perjuangan sang suami, hingga akhirnya terpilih sebagai gubernur perempuan pertama di Maluku Utara. [1, 2]
